Ditulis oleh Content Team, Danis Ahnaf
Menjadi orang tua tidak hanya tentang melahirkan anak dan membesarkannya. Ada proses panjang dan berkelanjutan yang perlu disadari agar hubungan antara anak dan orang tua tidak berhenti pada relasi transaksional, melainkan berkembang menjadi hubungan yang lebih hangat, terbuka, dan kekeluargaan. Melalui buku Can I Talk To You? Kania Annisa Anggiani atau akrab disapa Mbak Kania mengajak kita sebagai orang tua untuk lebih sadar dan hadir dalam setiap interaksi dengan anak.
Semangat orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak ini tercermin dalam acara Bincang-bincang Buku Can I Talk To You? yang diselenggarakan oleh BBB sebagai pembuka tahun 2026. Diskusi kali ini cukup mematik antusiasme audiens, terlihat dari jumlah partisipan yang hadir mencapai sekitar ±100 peserta. Antusiasme ini menunjukkan besarnya ketertarikan publik terhadap isu parenting yang lebih reflektif dan conscious.
Anak adalah Individu, bukan Miniatur Orang Tua
Dalam sesi diskusi ini, BBB menghadirkan langsung Mbak Kania sebagai narasumber utama. Selain dikenal sebagai penulis, Mbak Kania juga merupakan seorang ibu, entrepreneur, dan content creator yang kerap membagikan karya dan pemikirannya seputar kehidupan keluarga, kreativitas, serta proses self-healing. Ia juga merupakan pendiri Chic & Darling, sebuah brand home goods dengan desain unik yang lahir dari pengalaman personal dan perjalanan reflektifnya sebagai seorang ibu.
Salah satu topik yang dibahas dalam diskusi ini adalah konsep conscious parenting, yaitu pendekatan pengasuhan yang menekankan kesadaran diri orang tua terhadap pola asuh yang mereka jalani. Dalam pendekatan ini, anak tidak dianggap sebagai miniatur orang tua, melainkan sepenuhnya dipandang sebagai individu utuh. Conscious parenting menekankan empati, koneksi emosional, serta dialog dua arah, di mana orang tua merefleksikan pengalaman masa lalu mereka agar tidak mengulang pola pengasuhan yang kurang sehat di generasi berikutnya.
Latar Belakang Penulisan Buku Can I Talk To You?
Can I Talk To You? Merupakan buku yang ditulis oleh Mbak Kania dan menandai debutnya sebagai seorang penulis buku parenting. Buku ini terinspirasi dari dialog dan diskusi yang ia lakukan dengan kedua anaknya, Galan dan Lulla, yang kemudian ia dokumentasikan melalui jurnal pribadi. Percakapan-percakapan tersebut menjadi ruang refleksi, tidak hanya bagi anak-anaknya, tetapi juga bagi dirinya sendiri sebagai orang tua.
Mbak Kania mengungkapkan bahwa semakin sering ia berdialog dengan anak-anaknya, justru semakin banyak pelajaran yang ia dapatkan. Dari ratusan percakapan yang telah ia tulis, Mbak Kania kemudian mengkurasi 35 dialog untuk dimuat dalam buku ini, setelah terlebih dahulu mendapatkan izin dari kedua anaknya. Menariknya, dari 35 percakapan tersebut, lebih banyak dialog yang melibatkan Galan dibandingkan dengan Lulla yang mencerminkan dinamika relasi dan komunikasi yang berbeda antara orang tua dan masing-masing anak.
Ibu yang Bertransformasi
Parenting style yang kemudian diimplementasikan Mbak Kania dalam membesarkan anak-anaknya tidak lepas dari peran sang ibu, Rani Anggraeni Dewi, yang juga turut hadir dalam sesi kali ini. Meski Mbak Kania mengakui bahwa hubungannya dengan sang ibu di masa lalu tidak sedekat hubungannya dengan Lulla–anak perempuannya– saat ini, ia tetap merasa beruntung karena melihat bagaimana ibundanya bertransformasi menjadi sosok orang tua yang kini justru menjadi sumber inspirasinya sebagai seorang ibu.
Proses transformasi tersebut dimulai ketika Mbak Kania masih duduk di bangku sekolah menengah. Pada masa itu, Bu Rani mulai menjalani perjalanan spiritual yang kemudian ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Seiring waktu, dinamika hubungan antara Mbak Kania dan ibundanya pun berubah ke arah yang lebih positif. Hubungan yang semakin terbuka membuat Mbak Kania merasa lebih aman dan nyaman untuk berbagi cerita serta pengalaman hidupnya kepada orang tua.
“The relationship changes when she changes,”
Ia meyakini bahwa untuk mengubah dinamika dalam hubungan orang tua dan anak, perubahan tersebut harus dimulai dari orang tua terlebih dahulu. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi fondasi dalam pola pengasuhan yang ia terapkan kepada anak-anaknya. Perubahan tersebut juga menumbuhkan rasa aman dalam diri Mbak Kania, bahkan ketika ia menyadari telah melakukan kesalahan. Rasa aman itu memberinya keberanian untuk mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri, tanpa diliputi ketakutan akan penolakan.
Salah satu kalimat bermakna yang disampaikan oleh Mbak Kania adalah, “let me try again tomorrow.” Baginya, hubungan dengan anak-anak adalah proses panjang yang akan terus dipelajari setiap hari sepanjang hayat. Kita mungkin akan melakukan banyak kesalahan sepanjang prosesnya, but–as Mbak Kania said–we can always try again tomorrow.
Seorang ibu perlu terus bertransformasi. Banyak orang tua berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari mereka, but they don’t do any work. Padahal, proses belajar seharusnya justru dimulai dari orang tua, terutama ibu sebagai figur yang dianggap paling dekat dengan anak dalam keseharian. Ketika orang tua tidak memiliki ruang untuk bertumbuh dan menjalani kehidupannya secara utuh, anak pun kerap terjebak dalam pola yang sama dan tidak berkembang secara optimal.
Suami dan istri berada pada posisi yang setara, keduanya pertama kali belajar menjadi orang tua. Kesadaran inilah yang mendorong Mbak Kania untuk selalu melibatkan suaminya setiap kali ia mempelajari hal baru, khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan. Baginya, proses menjadi orang tua merupakan proses bersama yang membutuhkan komunikasi, pembelajaran, dan transformasi dari kedua belah pihak.
–
Sesi diskusi ini mengajarkan kita bahwa menjadi orang tua merupakan proses panjang yang terus bergerak dan berubah. Relasi orang tua dan anak akan selalu berkembang selagi orang tua bersedia hadir, mendengar, dan merefleksikan diri. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan, we can always try again tomorrow, and for the rest of our lives.
Sampai jumpa di sesi Bincang-bincang Buku selanjutnya Buibu dan Manteman!






