Green Changer: Ketika Buku Membuka Percakapan tentang Bumi

Afra Afifah

Jakarta, 23 Agustus 2026 — Di sore hari yang teduh di Taman Bendera Pusaka, udara cukup sejuk meski kegiatan berlangsung di ruang terbuka. Suasana itu menjadi bagian dari Green Changer: Cerita Kita untuk Bumi, Katadata Green Community Meet Up dalam rangka Road to Katadata SAFE 2026. Pada Minggu sore tersebut, BBB Book Club hadir untuk berbagi perspektif mengenai lingkungan, iklim, dan masa depan. Buku-buku bacaan peserta turut membuka percakapan mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.

Berbicara Tentang Bumi Melalui Buku

Sesi piknik literasi berlangsung dalam suasana santai, peserta berbagi cerita mengenai buku yang mereka baca. Menariknya, beberapa buku yang dibawa memiliki hubungan dengan isu lingkungan.

Beberapa judul yang didiskusikan antara lain Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama, Wkwk Land (Curhatan Alien vs Balada Polusi) karya Sharlini Putri dan Pravita Tias, serta Is a River Alive karya Robert MacFarlane.

Ada pula Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay yang mengajak pembaca melihat kembali hubungan manusia dengan barang dan pola konsumsi sehari-hari. Lalu juga ada Makan Apa Hari Ini? karya Noor H. Dee, Filosofi Teras karya Henry Manampiring, dan The Read-Aloud Handbook karya Jim Trelease.

Berbagai bacaan tersebut memperlihatkan bahwa isu lingkungan tidak selalu berangkat dari pembahasan dalam skala besar. Ia dapat dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan seperti apa yang kita konsumsi, bagaimana kita memandang satwa dan sungai, bagaimana kita memperlakukan barang, hingga bagaimana kita membangun kebiasaan membaca bersama.

Roblox Talk dan Sound Healing

Selain membicarakan tentang literasi, Karis Community juga hadir dengan perspektif yang berfokus pada pemberdayaan generasi perempuan masa depan di bidang teknologi, khususnya melalui gamification. Kehadiran Karis memperluas percakapan bahwa perubahan membutuhkan generasi yang mampu menciptakan solusi baru, dan teknologi dapat menjadi salah satu ruang untuk belajar, berkreasi, dan kolaborasi.

Setelah rangkaian diskusi dan aktivitas, kegiatan dilanjutkan dengan sound healing. Jika sesi sebelumnya banyak mengajak peserta bertukar gagasan, sesi ini memberikan ruang untuk berhenti sejenak dan menikmati suasana. Taman yang sejak sore menjadi ruang bertemunya komunitas pun perlahan menjadi tempat untuk menenangkan diri.

Green Changer: Cerita Kita untuk Bumi pada akhirnya mempertemukan berbagai cara untuk berbicara tentang masa depan. Ada buku yang mengajak pembacanya memahami lingkungan, teknologi yang membuka kemungkinan baru, serta ruang refleksi yang mengingatkan pentingnya berhenti sejenak.

Acara tersebut juga menjadi pengingat bahwa membaca tidak harus berhenti pada halaman terakhir sebuah buku. Sebuah bacaan dapat berlanjut menjadi percakapan, percakapan dapat berkembang menjadi kesadaran, dan kesadaran dapat menjadi awal dari perubahan yang dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita sendiri.

Leave a Reply