Cerita-Cerita Pertemanan, Jalinan Hubungan dan Refleksi Diri

Tema: Cerita-Cerita Pertemanan, Jalinan Hubungan dan Refleksi Diri

Narasumber: Prasanti Widyasih Sarli (Asih) – @asihsimanis, Dosen, peneliti

Platform: IG Live

Waktu: Rabu, 13 Oktober 2021, 19.00 – 20.00 WIB

Tentang:

Nyaris dua tahun kita ada dalam masa pandemi, banyak sekali hal yang berubah termasuk cara kita berteman dan menjalin hubungan; entah itu pertemanan lama yang butuh dipertahankan, hubungan masa kini yang perlu diperjuangkan atau perkenalan yang perlu kita inisiasi dan bangun untuk di kemudian hari. Apakah mungkin pandemi justru menjadi momen untuk lebih banyak refleksi diri dan berpikir kembali soal hubungan-hubungan apa yang harus kita pertahankan?

Topik ini rasanya sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Oleh karena itu kami mengajak ngobrol seorang teman, Prasanti Widyasih Sarli, Ph.D. atau biasa dipanggil Asih. Asih adalah seorang dosen di bidang Teknik Sipil dan peneliti yang kerap membagikan tulisan-tulisannya melalui Instagram @asihsimanis. Walau biasanya kita langsung membayangkan beton dan ‘cor-coran’ saat bicara teknik sipil, namun tulisan-tulisan Asih justru seringkali sangat erat dengan renungan dan pemikiran yang penuh empati. Asih kerap berinteraksi melalui Instagram Strories dan berbagi tulisan soal refleksi diri dan hubungan (dengan kekasih, sahabat, teman, mahasiswa dan masyarakat).

Selain bicara soal hubungan dan refleksi diri, Asih juga memberikan 2 rekomendasi buku terkait hubungan dan refleksi diri, yaitu buku Brene Brown dan Adam Grant.


Rekomendasi Buku


Rekaman Diskusi


Leseclub Oktober: Inkheart (Tintenherz)

Tema: ‘Tintenherz (Inkheart)’ karya Cornelia Funke

Perwakilan Goethe Institut: Fita Andrianti

Narasumber:

  • Vito Sami, Kepala Bidang Kineklub Liga Film Mahasiswa ITB
  • Dian Azhari, M.Hum, Pengajar Program Studi Sastra Jerman, STBA YAPARI-ABA Bandung

Pengulas: Meita Eryanti

Moderator: Puty Puar

Goethe Institut Bandung berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku dalam kegiatan ‘Klub Membaca’ Leseclub yang bertujuan untuk memperkenalkan sastra Jerman modern, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya (karya bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman).

Setelah pada edisi perdana membahas buku klasik Jerman berjudul ‘Momo’ karya Michael Ende, kali ini Leseclub membahas ‘Tintenherz’ atau ‘Inkheart’ karya Cornelia Funke yang terbit pada tahun 2003. Cornelia Funke sendiri kerap dijuluki sebagai J.K. Rowling-nya Jerman karena karyanya yang sangat kaya akan imajinasi. Karya ini juga diangkat ke layar lebar pada tahun 2009 dengan judul ‘Inkheart’.

Acara berlangsung secara virtual pada hari Sabtu, 9 Oktober 2021 pukul 09.30 WIB, dibuka dengan sambutan oleh Fita Andrianti selaku perwakilan dari Goethe Institut Bandung dan Okky Dwi Hapitta, M.Hum. selaku kepada prodi Sastra Jerman STBA YAPARI-ABA Bandung.

Setelah resmi dibuka, acara dimulai dengan pembacaan buku Inkheart halaman 145 – 152 secara bergiliran. Kemudian Meita Eryanti, perwakilan Buibu Baca Buku memaparkan ulasan buku tulisan Cornelia Funke ini. Meita menjelaskan tentang buku ini dari hal yang umum seperti itdentitas buku, hingga hal yang spesifik misalnya keunikan buku ini yang memasukkan kutipan dari berbagai sastra klasik di awal setiap bab. Meita juga menjelaskan soal bagaimana dia melihat ada sebuah gugatan dalam buku ini tentang narasi kepahlawanan yang selama ini didominasi oleh laki-laki dewasa.

Setelah pemaparan, diadakan tanya jawab bersama narasumber terkait sisi sastra dan alih wahana karya ini ke dalam medium film bersama Vito Sami dari Kineklub LFM ITB dan Dian Azhari dari STBA YAPARI-ABA Bandung.

Menurut Pak Dian, ‘Inkheart’ sebenarnya merupakan karya yang terasa ‘Jerman’-nya karena walaupun masuk ke dalam genre fiksi-fantasi yang sepertinya diperuntukkan bagi anak-anak, ada hal yang lebih mendalam yaitu soal bagaimana Cornelia Funke ingin menceritakan bahwa kehidupan dalam dongeng yang sering diromantisasi sebenarnya memiliki sisi yang gelap dan berat.

Hal ini yang kemudian dikomentari oleh Vito sebagai hal yang gagal disampaikan melalui medium film ala Hollywood. Menurut Vito, film ‘Inkheart’ tidak memberikan kesan yang mendalam dan terkesan sekadar menyuguhkan film fantasi dan petualangan gaya Hollywood.

Baik Pak Dian maupun Vito sependapat bahwa film-film Jerman memang memiliki kesan lebih gelap, serius dan membutuhkan pemikiran yang mendalam. Namun demikian, dengan mudahnya akses dan distribusi film dan series saat ini, banyak juga film Jerman yang sudah terpengaruh oleh gaya Hollywood yang lebih komersil. Namun demikian, jika kita bawa ke konteks alih wahana, boleh jadi buku Jerman pada umumnya memang tidak mudah untuk disampaikan ke dalam medium film. Pak Dian pun merangkumnya dalam analogi, “Ibarat bahan makanan sehat, tidak bisa dipaksakan untuk menjadi dessert karena dessert itu kan memang pada dasarnya bukan untuk sehat tapi untuk kesenangan. Sastra dan film Jerman kebanyakan juga seperti itu.”

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 40 orang yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Kegiatan Leseclub akan kembali di gelar di bulan November mendatang. Nantikan pengumumannya di kanal media sosial Goethe Institut Bandung dan Buibu Baca Buku Book Club ya! 🙂

Link terkait: https://www.goethe.de/ins/id/id/sta/ban/ver.cfm?fuseaction=events.detail&event_id=22361425


Tentang Buku

Judul asal: Tintenherz
Penulis: Cornelia Funke
Genre: Young Adult Fiction
Judul terjemahan: Inkheart
Penerjemah: Dinyah Latuconsina
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2009

Blurb: 

Ayah Meggie—namanya Mo—memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.

Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!


Read Aloud: Membacakan Nyaring? Apa Itu?

Tema: Read Aloud 1.O.1. Membacakan Nyaring? Apa Itu?

Narasumber: Ibu Ina T. S. Syamsuri

Platform: Zoom

Waktu: Sabtu, 25 September 2021

Tentang:

BBBBookclub bersama dengan Ibu Ina, seorang pengelola Rumah Baca dan pegiat read aloud, berbincang dengan kita semua tentang membaca nyaring dan bagaimana dasar-dasar prakteknya.

Dokumentasi Webinar dan Diskusi


Rangkuman Diskusi

Dari kegiatan diskusi ini, berikut beberapa catatan diskusi yang kami jadikan konten media sosial Instagram

Read Aloud 1.O.1


Langkah-Langkah Read Aloud


Tanya Jawab Read Aloud Part 1


Festival Bantu Teman: Layu Mekar Komunitas Sastra

Pada 14 – 18 September 2021 #TemanBantuTeman menggelar #FestivalBantuTeman. Festival ini digelar secara daring sebagai aksi galang donasi dan juga dimaksudkan sebagai ajang untuk membicarakan berbagai persoalan yang mendarah daging dalam “industri teks” alias ekosistem perbukuan di Indonesia. Puluhan pekerja buku, filmmaker, musisi, aktivis, dan masih banyak lagi tampil mengisi festival ini.

‘Buibu Baca Buku’ diwakili oleh Puty Puar hadir dan mengisi diskusi pada Sesi 1 di hari ke-5 Festival Bantu Teman, ‘Layu Mekar Komunitas Sastra’

Ekosistem sastra idealnya tercipta atas sirkulasi aktivitas para penulis sastra—yang menghasilkan karya, penerbit karya sastra, penjual karya sastra, dan pembaca karya sastra—yang pada porsi tertentu dapat berevolusi menjadi kritikus sastra. Keempat-empatnya, bisa dianggap, merupakan poros. Semakin solid simbiosis mutualisme mereka di sebuah wilayah, semakin suburlah ekosistem sastra di sana.

Namun, bagaimana jika salah satu dari empat poros tersebut tidak muncul, atau, ada tapi tak berfungsi? Di Indonesia sendiri, masih banyak wilayah yang belum memiliki lengkap keempatnya. Sehingga, ekosistem sastra di sana tidak hidup optimal.

Maka, dengan kondisi demikian, kehadiran komunitas sastra, sepertinya, menjadi salah satu upaya memunculkan apa-apa yang perlu dimunculkan guna memperbaiki ekosistem sastra. Apa sih motivasi pembentukan komunitas sastra sebetulnya? Bagaimana pandangan masyarakat sekitar terhadap komunitas sastra yang dibentuk? Ini yang didiskusikan pada diskusi Panel “Layu Mekar Komunitas Sastra” pada Hari Sabtu, 18 September 2021, 15:00 – 16:30 WIB.

Pembicara
Kiki Sulistyo (@kikisulistyo) – Akarpohon (@akarpohonmataram)
Puty Puar (@byputy) – Buibu Baca Buku (@bbbbookclub)
Margareth Ratih Fernandez (@marja_margareth) – Perkawanan Perempuan Menulis (@perempuanmenulis)
Tia Ragat (@tiaragat15) – Komunitas Sastra Dusun Flobamora (@dusunflobamora)

Moderator
M Aan Mansyur (@aanmansyur) – Penulis

Sepanjang diskusi tersedia Juru Bahasa Isyarat.

Sesi Diskusi


Leseclub September: Momo

Tema: ‘Momo’ karya Michael Ende

Perwakilan Goethe Institut: Fita Andrianti

Narasumber:

  • Hendarto Setiadi, Penerjemah buku ‘Momo’
  • Dian Ekawati, Pimpinan Program Studi Sastra Jerman, FIB, UNPAD

Pengulas: Meita Eryanti

Moderator: Puty Puar

Goethe Institut Bandung berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku dalam kegiatan ‘Klub Membaca’ Leseclub yang bertujuan untuk memperkenalkan sastra Jerman modern, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya (karya bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman).

Pada edisi perdana ini, kegiatan Klub Membaca membahas buku populer Jerman berjudul ‘Momo’ yang ditulis oleh Michael Ende di tahun 1973. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 60 peserta (dari 100 lebih pendaftar) yang datang dari berbagai latar belakang dan provinsi di Indonesia.

Acara dimulai dengan pembacaan buku ‘Momo’ secara bergiliran oleh peserta sebanyak 12 halaman yang diikuti dengan ulasan yang dipaparkan oleh Meita Eryanti.

Setelah pembahasan dengan pengulas, dilangsungkan sesi diskusi yang menghadirkan Bapak Hendarto Setiadi, penerjemah buku ‘Momo’ (Gramedia Pustaka Utama, 2004) dan Ibu Dian Ekawati, Pimpinan Program Studi Sastra Jerman, FIB, UNPAD.

Diskusi berjalan dengan hangat namun memberikan banyak wawasan dan inspirasi baru. Buku ‘Momo’ memang sangat menarik untuk dibahas karena walau bergenre roman anak namun banyak makna filosofis yang relevan dengan situasi saat ini.

Pak Hendarto menjelaskan bagaimana proses penerjemahan buku Momo tapi juga konteks budaya yang disesuaikan dengan pembaca Indonesia. Baik Pak Hendarto maupun Ibu Dian berpendapat bahwa buku-buku Jerman pada umumnya lebih serius dan memiliki makna yang mendalam. Hal ini merupakan salah satu faktor (namun bukan satu-satunya) kenapa buku sastra terjemahan Jerman tidak begitu populer di Indonesia jika dibandingkan dengan buku-buku Amerika yang biasanya memiliki pace yang lebih cepat.

Tidak hanya membahas buku, diskusi ini juga mengajak kita untuk lebih memahami sastra dan budaya Jerman, termasuk bagaimana pola asuh dan budaya membaca di Jerman juga ikut mendukung seorang anak untuk menjadi pemikir yang kritis dan berani mengungkapkan pendapat.

Kegiatan Leseclub akan kembali di gelar di bulan Oktober mendatang. Nantikan pengumumannya di kanal media sosial Goethe Institut Bandung dan Buibu Baca Buku Book Club 🙂

Link terkait: https://www.goethe.de/ins/id/id/ver.cfm?fuseaction=events.detail&event_id=22334153


Ulasan Buku

Oleh Meita Eryanti

Judul: Momo

Penulis: Michael Ende

Genre: Kinderroman (roman anak)

Penerjemah: Hendarto Setiadi

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka

Tahun terbit: 2004

Kisah MOMO berlangsung di negeri khayalan yang tidak terikat waktu dan tempat, di masa kini yang abadi. Namun ceritanya bukan mengenai pangeran, penyihir, dan peri. Kisah MOMO diangkat dari kehidupan kita sehari-hari. Dunianya adalah sebuah kota besar modern di selatan Eropa.

Gerombolan tuan kelabu yang menakutkan sedang beraksi. Mereka mendesak semua orang untuk semakin banyak menghemat waktu. Namun sebenarnya mereka mencuri waktu yang telah dihemat itu. Padahal waktu adalah kehidupan, dan kehidupan berpusat di dalam hati. Semakin giat orang-orang menghemat waktu, semakin hambar dan dingin kehidupan mereka, dan semakin asing pula mereka satu sama lain. Anak-anaklah yang paling merasakan pudarnya kasih sayang dan hilangnya kebersamaan. Namun protes mereka tidak dihiraukan. Ketika keadaan bertambah genting dan dunia seakan sudah berada dalam cengkeraman para tuan kelabu, Empu Hora, sang pengelola waktu yang misterius, memutuskan turun tangan. Tapi ia membutuhkan bantuan anak manusia.

Momo, gadis cilik dalam kisah ini, berjuang seorang diri melawan pasukan tuan kelabu. Hanya bersenjatakan sekuntum bunga dan ditemani seekor kura-kura ia berhasil tampil sebagai pemenang. Seluruh waktu yang selama ini disekap dikembalikan kepada pemilik masing-masing. Dunia yang nyaris celaka dapat diselamatkan.

ULASAN

Buku ini bercerita tentang suatu tempat yang dikuasai oleh gerombolan Tuan Kelabu. Kehadiran Tuan Kelabu membuat kota yang semula hangat dan menyenangkan menjadi dingin dan selalu terburu-buru. Gerombolan Tuan Kelabu membujuk orang-orang untuk menghemat waktu dan mereka akan mencurinya.

Ketika banyak orang dewasa yang terbujuk untuk menghemat waktu, semakin banyak anak-anak yang datang ke amfiteater tempat Momo tinggal karena merasa diabaikan oleh orang dewasa, terutama orangtuanya. Mereka dibelikan mainan bagus, diberi uang, namun tidak diberi waktu untuk bersama.

Sampai akhirnya anak-anak harus dititipkan di “Depot Anak-anak” supaya anak-anak terurus selagi orangtuanya sibuk bekerja. Di Depot Anak-anak, anak-anak dipersiapkan untuk menjadi penghemat waktu selanjutnya. Mereka tidak diperbolehkan bermain sendiri. Mereka hanya boleh melakukan permainan yang mengajarkan sesuatu yang bermanfaat.

Orang dewasa pun sebenarnya tidak bahagia dengan sistem penghematan waktu ini. Mereka jadi selalu terburu-buru dan tidak menikmati apa yang mereka kerjakan. Tuan Fusi, Si Tukang Cukur, yang tadinya ramah menjadi murung. Dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan tidak menanggapi obrolan pelanggannya.

Nicola, Si Tukang Tembok, dulu dia sangat bangga dengan hasil pekerjaannya. Tapi kini dia muak dengan pekerjaannya karena selain harus bekerja dengan cepat, dia juga harus menurunkan kualitas bangunan yang dibuatnya.

Nino, Si Tukang Kedai, sampai harus mengusir pamannya dari kedai supaya lebih banyak orang yang berkunjung ke kedainya. Bahkan pada akhirnya, kedainya yang suasana tadinya hangat dan menyenangkan berubah menjadi tempat makan prasmanan dimana orang makan sambil terburu-buru.

Gigi Pemanduwisata yang dulunya memiliki banyak cerita untuk disampaikan mencapai titik dimana dia kehilangan ide. Mulanya, ia mengirit ide. Sebuah ide dia kembangkan menjadi 5 cerita. Akhirnya dia menyuguhkan cerita yang sama pada pendengarnya dengan mengganti nama tokoh dan tempatnya. Jalan ceritanya hanya diubah sedikit-sedikit. 

Satu hal yang terlintas di pikiranku saat membaca buku Momo karya Michael Ende adalah ungkapan ‘time is money – waktu adalah uang’. Menarik banget ketika Tuan Kelabu bertemu dengan Tuan Fusi, tukang cukur, dan menjelaskan bagaimana dia melakukan pemborosan waktu selama ini. Tuan Kelabu kemudian menceritakan seberapa kayanya Tuan Fusi kalau bisa menabung waktu. Konsepnya persis banget dengan uang. Semakin banyak uang yang bisa kita simpan, kita akan jadi semakin kaya.

Cerita ini ditulis oleh Michael Ende, penulis Jerman pada tahun 1973 namun menurutku, relevan sekali dengan kondisi masyarakat di sekitarku hari ini. Orang dewasa bekerja sangat keras, bahkan ada yang bekerja lebih dari 12 jam sehari. Anak-anak lalu disekolahkan di fullday school dari pagi sampai sore.

Bahkan, ada kalimat dari Tuan Kelabu pada Momo yang sering sekali aku dengar dari banyak orang yang lebih tua. Katanya, “Satu-satunya yang penting dalam hidup ini adalah kemajuan, keberhasilan. Jika kau lebih maju, lebih berhasil daripada orang lain, maka semua hal lain akan datang dengan sendirinya: persahabatan, kasih sayang, kehormatan, dan sebagainya.”

Sejujurnya, aku selalu takjub dengan literatur anak dari Eropa. Dari beberapa literatur anak yang pernah aku baca, mereka selalu membawa tema yang menurutku cukup berat tapi memang disampaikan dengan bahasa yang menyenangkan. 

Cerita Momo ini fantasi dengan nama tokoh yang lucu dan mudah diingat. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga sederhana dan mengalir. Membaca buku ini seperti aku mendengarkan seseorang yang bercerita (kayaknya buku ini cocok banget kalau dialihwahanakan ke audio). Tetapi tema tentang penghematan waktu ini menurutku lebih cocok untuk dibaca oleh orang dewasa yang selalu terburu-buru.


‘dan Hujan pun Berhenti’, memperingati World Suicide Prevention Day

Tema: Buku ‘Dan Hujan Pun Berhenti’

Narasumber: Farida Susanty, penulis dan manajer riset tirto.id

Platform: IG Live

Waktu: Jumat, 10 September 2021, 16:30

Tentang:

dan Hujan pun Berhenti’ adalah buku fiksi yang terbit pada tahun 2007 yang mengangkat tema bunuh diri.

Leo, sang pemeran utama, tanpa sengaja menemukan Spiza, seorang gadis SMA seusianya, sedang melakukan percobaan bunuh diri di kamar mandi sekolah. Reflek Leo saat itu bukanlah langsung menyelamatkan Spiza, tapi malah bertanya “…jadi, lo mau mati gini aja atau gue selametin?”

Buku ini menyentuh isu bunuh diri pada remaja dan mengajak pembacanya menyelami jalan pikiran kedua remaja tersebut. Mulai dari kenapa mereka ingin mati, kenapa mereka terpikir untuk membunuh diri sendiri, dan luka-luka apa yang timbul hingga di usia mereka yang masih remaja hingga keputusan itulah yang mereka ingin ambil.

Buku ini juga memberi pesan tersirat mengenai pentingnya peran orang-orang di sekitar Leo dan Spiza dalam perjalanan emosi mereka.

Dalam rangka World Suicide Prevention Day, kami mengadakan diskusi via IG Live bersama penulisnya, Farida Susanty.


Rekaman Diskusi