Reading Challenge 2022

Buibu Baca Buku Reading Challenge is back! 😆 Yup, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya kami ingin mengajak Buibu & Manteman untuk menantang diri sendiri menentukan target membaca untuk tahun 2022!

Namun sebelum itu, kami ingin sedikit berbagi insight yang kami dapat dari Reading Challenge Wrap Up 2021 dan Survey Buibu Baca Buku Book Club 2021.

Apakah mengikuti reading challenge memberi dampak pada kegiatan membaca?

Berdasarkan 158 respon yang masuk pada Reading Challenge Wrap Up 2021, mengatakan bahwa ‘Reading Challenge’ memotivasi untuk meningkatkan MINAT & KONSISTENSI membaca (93%), JUMLAH BUKU yang dibaca (86%) dan MEMPERLUAS RAGAM BUKU yang dibaca (73%)

Hal ini sesuai dengan yang kami temukan pada Survey Buibu Baca Buku Book Club 2021, 320 (42%) dari 771 responden menyatakan bahwa mengikuti tantangan membaca adalah salah satu kegiatan yang sudah berhasil memotivasi dirinya untuk membaca buku.

Seberapa besar dampaknya? Berikut penilaian dari 317 responden yang disebutkan di atas.

Tertarik untuk mencoba? 🙂

“Ok, aku tertarik, gimana cara ikutannya?”

Sejak tahun 2019, kami berbagi template challenge untuk kemudian dibagikan melalui media sosial. Tahun ini juga demikian.

  1. Isi template challenge yang dibagikan (ada di bagian bawah halaman ini) dengan jumlah buku serta jenis tantangan membaca lain yang kalian targetkan untuk dibaca sepanjang 2022 (setahun)
  2. Update bacaan kalian melalui Instagram / Twitter / media sosial lainnya. Update ini juga bisa digunakan untuk menghitung jumlah buku.
  3. Highlight di sorotan / highlight Instagram atau pin pada media sosial favorit kalian.
  4. Di akhir tahun kita bisa melihat / mereview kembali apakah kita menyelesaikan tantangan baca dari diri kita sendiri.

Namun karena kami kerap kewalahan dalam mendata peserta melalui Instagram Story. Terkadang ada yang terlewat, jadi kami mengundang Buibu dan Manteman untuk mengisi form berikut:

Silakan mention atau tag kami di @bbbbookclub, ajak juga Buibu & Manteman lain untuk ikutan. Kami percaya bahwa membuat reading challenge ini bukan untuk gaya-gayaan atau banyak-banyakan tapi soal membangun dan berbagi kebiasaan baik 😊 Nggak perlu khawatir soal angka. Mau isi ‘1’ pun juga nggak apa-apa kok 😊

Berikut templatenya:

Bukan soal jumlah saja, loh!

Tahun ini kami juga berbagi template jika Buibu dan Manteman ingin menantang diri lebih dari sekadar jumlah buku. Silakan ‘Save As’ sini! 🙂

Atau yang lebih seru lagi, kalian bisa menantang diri dengan membuat ‘Book Bingo‘ sendiri!

Seru kan? 🙂 Yuk ikutan! Kalau ada bingung, jangan ragu untuk DM kami di @bbbbookclub atau email melalui hello@buibubacabuku.com ya!


Bookish Year Book 2021 Template

Hai Buibu & Manteman, tak terasa kita sudah sampai di penghujung tahun 2021. Bagaimana pengalaman membaca kalian? Mudah-mudahan menyenangkan! Selain melakukan Reading Challenge Wrap Up 2021, kami juga ingin mengajak kalian untuk berbagi cerita tentang buku dan bacaan sepanjang 2021 melalui ‘Bookish Year Book 2021’.

Secara keseluruhan terdapat 4 template yang bisa diunduh di sini (silakan ‘Save As‘ untuk mennyimpan versi resolusi tingginya), diisi, kemudian diunggah ke media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, atau untuk dipost di blog. Buibu dan Manteman dapat mengisinya dengan menggunakan aplikasi photo editor seperti Photoshop, Canva, atau yang paling mudah: mengisinya dengan Instagram Story.

Bagikan berapa buku yang kalian baca tahun ini:

Ceritakan pengalaman baca sepanjang 2021:

Team Fiksi? Team Non-Fiksi? Team Dua-Duanya?

Jika mengunggahnya di Instagram, jangan lupa untuk tag kami di @bbbbookclub ya! Mari bersenang-senang bersama! 😀

Cheers!

MISI: Perempuan & Rahasia Keluarga

Tema: MISI: Perempuan & Rahasia Keluarga

Narasumber: Asmayani Kusrini, Penulis novel ‘MISI’

Platform: IG live @bbbbookclub & @asmayanikusrini

Waktu: Kamis, 9 Desember 2021, 16.00 WIB

Tentang:

Bercerita tentang keluarga pastilah bercerita tentang perempuan, termasuk soal suka dan deritanya. Tahun 2021, Asmayani Kusrini (@asmayanikusrini) meluncurkan novel keduanya berjudul ‘MISI’.

Novel ini menceritakan tentang seorang perempuan yang hidupnya berubah setelah mengalami pelecehan seksual; dari seorang gadis di Tana Toraja hingga mengembara di Benua Eropa. Apakah ini sebuah respon atas keresahan tentang isu kekerasan seksual di Indonesia? Apa lagi yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini? Kami membahasnya dengan Asmayani Kusrini dalam #BincangBincangBuku.

Rekaman Diskusi

Ulasan Buku


Reading Challenge Wrap Up 2021!

Hai Buibu & Manteman, terima kasih sudah berpartisipasi dalam program reading challenge Buibu Baca Buku 2021. Tahun ini kami ingin mengajak Buibu & Manteman meninjau kembali dan mengapresiasi perjalanan kegiatan membaca setahun ini.

Kami percaya bahwa membaca buku bukan hanya soal jumlah, dan membuat target bukan semata soal ‘tercapai / tidak tercapai’. Selain itu, kami juga meyakini bahwa meninjau kembali tujuan dan tantangan untuk diri adalah bagian dari proses dalam memahami diri sendiri dengan lebih baik. Kami berharap evaluasi ini bisa bermanfaat bagi Buibu & Manteman peserta reading challenge dan juga kami sebagai komunitas.

Terdapat 9 pertanyaan untuk diisi + 2 pertanyaan opsional jika kamu mengikuti reading challenge tahun sebelumnya.

Kami berkomitmen untuk menjaga kerahasiaan data yang kami terima, dan hanya akan menggunakannya untuk kepentingan evaluasi reading challenge ini. Alamat email kami butuhkan sebagai validasi dan sarana komunikasi karena ada beberapa hadiah bagi beberapa responden yang beruntung.

  • Voucher Gramedia senilai Rp150.000 untuk 1 orang
  • Totebag + pin BBB untuk 4 orang
  • Buku untuk 6 orang (masing-masing 1 eks)

Jawaban yang Tercapai atau tidak tercapai TIDAK akan menjadi pertimbangan dalam pemilihan pemenang hadiah (pemilihan pemenang akan dilakukan dengan undian), jadi jawab dengan sejujurnya aja yaaa 😘

BATAS PENGUMPULAN AKHIR READING CHALLENGE: 18 Desember 2021 pukul 23:59

#buibubacabuku#buibubacabukureadingchallenge

Ibu Ibukota: Suka Duka Meningkatkan Literasi Keluarga Prasejahtara

Tema: Suka Duka Meningkatkan Literasi Keluarga Prasejahtara

Narasumber: Sri Utami, Ibu Ibukota 2021 Bidang Pendidikan, Pendiri PAUD Gratis Anak-Anak Kelurahan Manggarai, Jakarta

Platform: IG Live

Waktu: Jumat, 3 Desember 2021, 15:30

Tentang:

Sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat berkolaborasi dengan @ibu.ibukota untuk berbincang dengan salah satu sosok penggerak literasi, Ibu Sri Utami. Ibu Sri Utami adalah salah satu dari Ibu Ibukota, yaitu sosok ibu penggerak yang berdampak bagi sesama lewat hal-hal kecil yang berkelanjutan untuk tujuan yang lebih besar.

Berangkat dari kekhawatiran yang dimiliki oleh Ibu Sri Utami terhadap anak-anak yang tidak mampu mengakses dunia pendidikan, beliau mendirikan PAUD gratis sebagai bentuk perhatian beliau bagi anak-anak pemulung yang berada di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Ibu Sri Utami berharap kelak akan ada banyak orang yang bergerak memajukan pendidikan dan melakukan #aksihidupbaik seperti yang telah beliau lakukan.

Kami mengajak Ibu Sri Utami untuk berbincang melalui Instagram live bersama Ibu Ibukota Awards ‘Suka Duka Meningkatkan Literasi Keluarga Prasejahtera’. Bagaimana kondisi pendidikan dan literasi di PAUD yang digagas Ibu Utami? Apa saja kendala yang dihadapi, baik dari pihak Ibu Utami maupun dari peserta PAUD-nya? Apakah mungkin kalau meningkatkan literasi anak-anak sekaligus orangtuanya juga?

Rekaman Diskusi


Leseclub November: An Inventory of Losses (Verzeichnis einiger Verluste)

Tema: ‘An Inventory of Losses (Verzeichnis einiger Verluste)’ karya Judith Schalansky

Perwakilan Goethe Institut: Fita Andrianti

Narasumber:

  • Hendarto Setiadi, Penerjemah buku ‘Verzeichnis einiger Verluste’
  • Shafira Fawzia, psikolog klinis di Indonesian Psychological Healthcare Center IndoPsyCare
  • Dani Hendra, S.Pd., M.A, Dosen program studi Bahasa Jerman, Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia Jawa Barat, Penulis Buku dan Puisi Bahasa Jerman

Pengulas: Meita Eryanti (BBB Book Club)

Moderator: Puty Puar (BBB Book Club)

Leseclub di bulan November ini hadir sebagai penutup Leseclub di tahun 2021. Kembali berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku, Goethe Institut Bandung mengangkat buku ‘Verzeichnis einiger Verluste’ / ‘An Inventory of Losses’ / ‘Tentang Memori dan Kehilangan Abadi’ karya Judith Schalansky yang terbit tahun 2018. Buku ini mendapatkan posisi ke- 4 pada kompetisi Stiftung Buchkunst’s “The Most Beautiful German Books” competition (German: Die schönsten deutschen Bücher) tahun 2019 dan masuk ke daftar panjang the 2021 International Booker Prize.

Acara berlangsung secara virtual pada hari Sabtu, 20 November 2021 pukul 13.00 WIB, dibuka dengan sambutan oleh Fita Andrianti selaku perwakilan dari Goethe Institut Bandung dan Bapak Dani Hendra selaku perwakilan program studi Bahasa Jerman, Universitas Pendidikan Indonesia yang juga merupakan Ketua Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia Jawa Barat, Penulis Buku dan Puisi Bahasa Jerman.

Setelah resmi dibuka, acara dimulai dengan pembacaan buku Inventory of Losses halaman xiv – xix secara bergiliran.

Kemudian Meita Eryanti, perwakilan Buibu Baca Buku memaparkan ulasan buku ‘An Inventory of Losses’. Selain hal yang umum seperti identitas buku, Meita memaparkan bahwa buku ini terdiri dari 12 tulisan yang dapat dikategorikan sebagai esai dengan berbagai gaya, dimulai dengan ilustrasi dan fakta dalam beberapa paragraf.

Setelah pemaparan, diadakan tanya jawab bersama para narasumber membahas buku ini dari sisi penerjemahan, sastra, pendidikan, budaya dan psikologi.

Sebagai penerjemah, Pak Hendarto banyak bercerita sekaligus memberikan wawasan baru. Menurutnya, buku ini memiliki 3 keunikan:

  1. Buku ini dapat dikategorikan sebagai non-fiksi sekaligus fiksi. Buku ini berisi objek-objek yang memang tercatat memiliki sejarah dan didasarkan atas riset yang mendalam. Namun pengembangannya sendiri adalah narasi fiksi dengan berbagai gaya.
  2. Keduabelas cerita pada buku ini juga memiliki konteks ruang, waktu dan sudut pandang yang berbeda. Gaya penulisannya juga berbeda satu sama lain, oleh karena itu secara teknis penerjemahan ini juga menjadi tantangan tersendiri.
  3. Dalam proses penerjemahan, Pak Hendarto menceritakan bahwa buku ini diterjemahkan bersama-sama oleh 10 penerjemah ke dalam 10 bahasa dalam ‘Social Translating Project of the Goethe-Institut Korea’. Dalam proses penerjemahan, penerjemah bisa berbincang dengan penulis aslinya dan berdiskusi dengan penerjemah lain dari berbagai negara. Salah satu cerita menarik dari Pak Hendarto adalah soal bagaimana menerjemahkan ‘ich’ dalam bahasa Jerman yang berarti ‘saya’ namun perlu dipikirkan alih bahasanya ketika dibawa ke bahasa di negara-negara Asia yang lebih mengenal hierarki untuk menyebut diri sendiri, misalnya Thailand atau Indonesia.

Selain itu baik Pak Hendarto dan Pak Dian juga berbagi cerita tentang kecenderungan penggunaan kalimat-kalimat panjang dalam sastra Jerman. Menurut mereka, ini terjadi karena Bahasa Jerman memang memiliki tata bahasa yang mengatur kalimat-kalimat yang kompleks, sehingga tidak ada kebingungan pada saat menggunakannya. Namun demikian, hal ini memang relatif tidak mudah dan tidak biasa bagi pembaca berbahasa Indonesia dengan tata bahasa yang lebih sederhana.

Hal ini yang menurut Pak Dani sebagai pengajar Bahasa Jerman menjadi tantangan bagi sastra Jerman kontemporer untuk mendapat popularitas di kalangan pembaca Indonesia. Data membuktikan bahwa minat baca dan tingkat literasi di Indonesia terbilang masih minim. Hal ini sangat berbeda dengan Jerman yang memang sudah menjadikan membaca sebagai budaya di keluarga sejak dini, oleh karena itu sastra Jerman boleh terbilang ‘berat’.

Selain aspek sastra, diskusi Leseclub juga membahas aspek psikologis yang hadir pada buku ‘An Inventory of Losses’ ini, yaitu soal kehilangan dan kecenderungan kita untuk abai terhadap sesuatu sampai kita kehilangannya. Menurut Mbak Shafira, dari sisi psikologis ini dapat dijelaskan dari 2 aspek:

  1. Konsep ketersediaan. Dalam hidup, ketika kita mengasumsikan bahwa sesuatu akan terus tersedia, kita tidak akan menghargai keberadaannya seperti saat kita menyadari adanya keterbatasan. Begitupun dengan kematian / kepunahan, kita sering tidak menyadari bahwa sesuatu atau seseorang tidak akan terus ada.
  2. Intensitas emosi yang menurun seiring dengan proses ‘habituasi’ atau rasa terbiasa. Ketika sesuatu atau seseorang terus ada, maka intensitas emosi kita akan menurun dan tidak banyak merasakan apa-apa.

Bicara soal kematian, Pak Hendarto sedikit berbagi tentang perbedaan pandangan orang Jerman tentang kematian dengan orang Indonesia. Menurutnya ini bukan sesuatu yang spesifik untuk orang Jerman saja namun pada kecenderungan pada kelompok yang mengartikan kematian sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan karena bukan lagi menjadi hal yang ada dalam kontrol manusia. Pemisahan ini membuat kematian terasa lebih ‘tragis’, apalagi untuk mereka dengan sistem masyarakat yang lebih individualis, karena kabar kematian yang datang akan datang dari lingkaran-lingkaran yang lebih kecil dan dekat.

Selama acara berlangsung, para ada berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada para narasumber, salah satunya tentang tips melakukan alih bahasa. Pak Hendarto menyebut 3 poin yang menarik untuk dicatat:

  1. Baca buku sebanyak-banyaknya dan untuk buku yang akan diterjemahkan, jangan hanya satu kali. Baca berulang kali.
  2. Lakukan diskusi dengan sesama pembaca. Selain menyenangkan, ini juga akan memberi kita perspektif baru, termasuk saat memandang konteks subjek yang akan diterjemahkan.
  3. Jika ingin memulai, pilih buku yang kita sukai. Rasa suka ini akan menciptakan kebahagiaan untuk berbagi.

Dihadiri oleh lebih dari 80 orang yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia, kami berharap Leseclub akan terus konsisten melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan minat baca dan ketertarikan pada sastra dan budaya Jerman.

Di akhir acara, Mbak Fita Andrianti ‘membocorkan’ teaser bahwa Leseclub akan kembali di tahun 2022 dan mudah-mudahan bisa terus berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku Book Club 🙂 Hore!

Link terkait: https://www.goethe.de/ins/id/id/sta/ban/ver.cfm?event_id=22474974&


Tentang Buku

Verzeichnis einiger Verluste / Inventory of Losses / Tentang Memori dan Kehilangan Abadi

Penulis : Judith Schalansky
Terbit : 2018, Surkahmp Verlag
Terbit terjemahan: 2020, Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Alih Bahasa : Hendarto Setiadi
Jumlah halaman: 282 halaman
Genre : Sastra
Penghargaan : Longlisted for the 2021 International Booker Prize 

Blurb: 

Mengapa baru ketika sesuatu hilang untuk selamanya, kita merasakan betapa besar artinya bagi kita? Mengapa sesuatu yang ditutup-tutupi – entah dalam sejarah sebuah bangsa atau dalam keluarga sendiri – bisa berdampak begitu besar? Mengapa saya tidak bisa membuang apa pun? dan mengapa hewan yang telah punah, lukisan yang dirusak, dan buku yang dibakar terasa jauh lebih menarik dan lebih memesona dibandingkan seluruh sisanya yang masih ada?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan keinginan dalam diri saya untuk menyusun semacam inventaris kehilangan, sebuah daftar mengenai hal-hal yang kita tahu pernah ada, tetapi kemudian lenyap – entah karena sengaja dimusnahkan atau karena menghilang begitu saja seiring berjalannya waktu.

Sebab sesuatu yang hilang-apakah orang yang disayangi atau seikat kunci- akan meninggalkan ruang realitas dan memasuki ruang mitos, berubah dari sesuatu yang faktual menjadi hal yang fiktif. Lalu muncullah peran bercerita, semua kisah dan anekdot yang membuat duka cita menjadi lebih tertahankan. Sebab bercerita itu membantu. Bercerita adalah pelipur lara terbaik dan pengalaman kehilangan, saya mendadak menyadari, adalah awal dari semua budaya.

Sebuah buku, menurut hemat saya, adalah terbaik dan terindah untuk menyimpan sesuatu. Buku seperti itulah yang ingin saya tulis dan rancang. Sebuah buku yang mengumpulkan dan menceritakan berbagai hal yang saya rindukan. Sebuah buku duka dan penghiburan. Buku yang menyoroti bukan hanya kehilangan, tetapi juga yang perolehan. Sebab tidak ada yang dapat dihadirkan kembali, namun segala sesuatu dapat dibuat agar bisa dialami lagi.