Masa remaja merupakan salah satu fase yang paling berliku karena pada fase ini kita mulai mencari jati diri kita. Mulai mencari idola untuk diikuti atau bahkan mulai membanding-bandingkan diri dengan teman sebaya yang tak jarang malah menimbulkan luka pada diri.

Nah, pada Leseclub kali ini, BBB berkesempatan untuk berdiskusi membahas liku-liku luka remaja dalam buku “Yang Kulihat di Cermin (Topless)”. Buku ini merupakan terjemahan dari buku berbahasa Jerman yang berjudul “Oben Ohne”. Pada diskusi kali ini, dihadiri oleh narasumber yang inspiratif, yaitu Kak Anindya Amarakamini yang merupakan penerjemah buku Oben Ohne (Yang Kulihat di Cermin (Topless)) dan Kak Shanti Andin yang merupakan psikolog pendidikan.

Buku Yang Kulihat di Cermin mengangkat isu remaja yang berlatar belakang di Jerman. Meski begitu, konflik yang diangkat bersifat universal dan relatable bagi kebanyakan remaja, termasuk di Indonesia. Hal ini jugalah yang memotivasi Kak Anin untuk menerjemahkan buku ini.

Sedangkan dari sudut pandang psikolog, Kak Shanti berpendapat bahwa buku ini sangat bagus untuk membentuk relasi saling percaya antara pengajar atau orang tua dengan remaja.

Untuk ulasan lebih lanjut mengenai buku menarik ini, bisa menyimak ulasan pada unggahan berikut ini.

Selain mengulas buku, para narasumber juga memberikan tips dan insight yang menarik. Bagi Buibu dan Manteman yang penasaran dengan pembahasan lengkapnya, dapat simak di reportase berikut ini ya!

Terima kasih untuk Buibu dan Manteman yang sudah menyempatkan hadir. Terima kasih juga kepada para kolaborator, Goethe Institut dan Gramedia Pustaka Utama yang sudah mendukung kegiatan ini. Sampai jumpa di Leseclub berikutnya!

👋📚✨

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.