Di awal Juni kemarin, Komunitas Baca Bumi mengadakan sebuah webinar bertajuk “Membaca untuk Bumi, Merawat Harapan”. Webinar ini diselenggarakan pada hari Minggu, 8 Juni 2025, dengan narasumber Puty Puar, Founder & Executive Director Buibu Baca Buku Book Club, dan Iqbal Damanik, Forest Campaigner Greenpeace Indonesia.
Webinar ini dimulai dengan perkenalan komunitas Baca Bumi, sebuah komunitas baca buku yang secara khusus akan membaca dan mendiskusikan buku-buku tentang lingkungan. Buibu dan Manteman yang tertarik bisa cari tahu lebih banyak tentang kegiatannya dengan follow instagramnya di sini yaa.
Setelah perkenalan singkat tersebut, pembahasan utama dari webinar ini dimulai. Bang Iqbal sebagai narasumber pertama menjelaskan bahwa situasi yang terjadi sekarang ini, harusnya membuat kita yakin bahwa krisis iklim memang sedang terjadi.
Orang-orang yang tinggal di perkotaan mungkin mengalami dampak tidak langsungnya, seperti periode musim yang bergeser atau cuaca yang semakin panas. Tapi, tidak dengan orang-orang yang tinggal di pulau-pulau kecil. Garis pantai mereka semakin naik, sehingga tempat tinggal dan sumber kehidupan mereka di alam terancam tenggelam. Jarak dan perbedaan gaya hidup membuat kita seringkali kesulitan memahami bahwa ada peradaban yang memang menggantungkan hidup mereka sehari-hari pada alam. Melihat kenyataan ini, kemampuan literasi dan berempati memang diperlukan untuk membantu terciptanya pemahaman tersebut.
Pernyataan ini didukung oleh jawaban dari Kak Puty. Seringkali, kita, atau khususnya ibu-ibu, menganggap bahwa isu krisis iklim adalah isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, saat kita membahas tentang naiknya harga pangan akibat panen yang gagal atau meningkatnya kasus ISPA karena polusi udara, hal-hal ini disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan yang pertama kali merasakan dampaknya adalah ibu.
Untuk dapat memahami bahwa masalah ini adalah bagian dari suatu sistem yang lebih besar, dibutuhkan kemampuan literasi dan berpikir kritis yang baik. Dengan memahami, kita juga dapat berempati dan pada akhirnya menyadari bahwa sekecil-kecilnya aksi yang kita lakukan untuk memperjuangkan lingkungan akan dampak berdampak pada skala yang lebih besar.
Ada pembahasan yang menarik saat muncul pertanyaan tentang tantangan apa yang dihadapi oleh narasumber dalam mengarusutamakan pembahasan mengenai isu iklim. Menurut Bang Iqbal, berdasarkan pengalamannya saat menjalankan kampanye (terutama yang sifatnya online), seringkali ada tanggapan-tanggapan negatif yang tidak hanya mengecilkan kampanye, tapi juga menyerang personal aktivis yang menggaungkan isu ini.
Hal ini disadarinya sebagai dampak dari kurangnya empati terhadap cara hidup orang-orang di luar lingkaran sosial dan wilayah tertentu, dan karena sumber informasi saat ini seringkali berasal dari apa saja yang kita lihat di internet tanpa sikap kritis untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap informasi tersebut dan membuat diskusi seringkali bergeser menjadi ke hal-hal yang tidak penting.
Kak Puty lalu menambahkan bahwa informasi yang simpang siur, ketidakmampuan untuk berpikir kritis, dan empati yang hilang memang merupakan tantangan yang menghambat pemahaman terhadap krisis iklim. Dalam perjalanan program Climate Literacy for Mothers, kak Puty mengatakan bahwa isu iklim memang bukan termasuk isu yang populer sehingga agak sulit untuk melibatkan audiens ke dalam topik ini. Ada juga kesulitan untuk menyambungkan isu sehari-hari yang diangkat dengan sistem yang lebih besar.
Di akhir acara, narasumber dan peserta tidak lupa untuk membagikan rekomendasi buku-buku terkait isu iklim yang bisa dibaca oleh Buibu dan Manteman. Simak daftarnya di bawah ini yaa:
- Tahun Penuh Gulma -> Siddharta Sarma
- Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang -> Luis sepulveda
- Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta -> Luis sepulveda
- Germinal -> Emile Zola
- Tales of Two Planets-> John Freeman
- Sumur -> Eka Kurniawan
- Less is More: How Degrowth Will Save the World -> Jason Hickel
- Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut -> Dian Purnomo
- Islam & Lingkungan: Perspektif Al-Quran Menyangkut Pemeliharaan Lingkungan -> M. Quraish Shihab
Seru sekali bisa membahas isu penting ini bersama Baca Bumi dan kedua narasumber. Buibu dan Manteman bisa mampir juga ke post reportase webinar dari Baca Bumi yang ini yaaa:
Sampai jumpa di kegiatan selanjutnya!



