120 menit ternyata nggak cukup untuk ngobrol dan mengulik buku pertama Mbak Kania yang berjudul Can I Talk to You yang diterbitkan akhir tahun lalu. Saking antusiasnya Buibu dan Manteman, banyak banget pertanyaan yang belum sempat terjawab dalam sesi diskusi.

Kami mengumpulkan pertanyaan dari Buibu dan Manteman dan Mbak Kania menjawabnya secara tertulis! Scroll sampai habis untuk membaca jawaban-jawabannya yang tentu heartwarming seperti diskusinya.

Ada buku-buku rekomendasi dari Mbak Kania juga loh! Ada yang Buibu dan Manteman sudah baca?

  1. Mother Mary Comes to Me – Arundhati Roy
  2. Mother Hunger – Kelly Mcdaniel
  3. Untangled – Lisa D’amour
  4. The Battle Hymn of The Tiger Mother – Amy Chua
  5. How to Raise a Boy – Michael C. Reichert

Proses Penulisan

F – Cirebon: Izin bertanya kak, kenapa kakak menulis buku pertama ini dengan menggunakan bahasa Inggris? Lalu apakah nanti menerbitkan buku ini dalam bahasa Indonesia?

Mbak Kania: Saya hanya mau melahirkan karya yang “gue banget”, dan ini non-negotiable. Saya merasa lebih nyaman menulis sesuai kapasitas saya dan memakai bahasa yang saya memang pakai sehari-hari untuk berkomunikasi. Enam tahun pertama masa kecil saya tinggal di Amerika Serikat jadi English was almost like my mother tongue, baru kemudian saya belajar lagi Bahasa Indonesia. Saya sangat mengagumi penulis-penulis Sastra Indonesia, mereka membuat saya bercita-cita bisa menulis bahasa Indonesia dengan baik. Mungkin suatu hari nanti saya bisa menerbitkan buku dalam bahasa. 

Tentu saya berharap buku saya ada versi bahasa Indonesianya, semoga bisa ter-realisasi ya! 

O – Jakarta: Utk pertanyaan sama yg ditanyakan berkali2 oleh anak, yg ditulis di buku apakah respon awal spontan teh keke, atau respon akhir stelah ditanya ulang oleh anak?

Mbak Kania: Everything in between. Tapi semua pertanyaan dan jawaban di buku adalah spontan, tidak ada yang di-stage. Ada dialog yang prematur, ada juga dialog yang sudah ber-proses, artinya, dialog tersebut tidak terjadi sekali dua kali.

Personal Development

M – jaktim: Hi kak kania, saya belum membaca buku kamu. Saya izin bertanya dan maaf kalau sensitif pertanyaannya. 

  1. Kapan turning poin dalam hidup kak kania yang akhirnya memilih memproses diri menjadi lebih kesadaran
  2. Apa yang membuat kak kania memfokuskan cerita ini berkaitan relasi antara ibu dan anak ?

Mbak Kania: (1) Seperti saya bahas di zoom, prosesnya dipantik oleh anak saya yang pertama. Seperti kebanyakan anak pertama yg selalu menjadi kelinci percobaan, saya banyak sekali salah dan merasa sangat bersalah sama dia. Kesalahan2 ini perlahan saya sadari dan menjadi pemantik saya utk belajar dan memperbaiki diri, dan proses ini di amplify saat anak kedua saya lahir.

(2) Karena berangkat dari pengalaman saya dan perjalanan hidup saya sendiri. Awalnya tulisan2 ini hanyalah jurnal pribadi, yang akhirnya saya putuskan untuk publikasi. Saya merasa mungkin refleksi2 bisa membuat orang lain merasa tidak sendiri. 

A – Tangsel: Teh Keke, kalau di usia kita saat ini masih punya hubungan yang belum sehat antara aku dan ibuku krn banyak luka yang rasanya sulit dilupakan. Ada sarankah apa yang perlu dilakukan? Aku udah seeking help ke psikolog, ikut TAT dan mencoba merubah mindset untuk memaafkan duluan tapi rasanya masih sulit. Meanwhile when im with my kids, saat aku berkesadaran ada inner child yang rasanya sedih krn ingin diperlakukan demikian, maaf jd curhat :’)

Mbak Kania: Menurutku perasaan ini wajar dan sangat manusiawi. Mungkin akui dulu bahwa kamu masih berproses, dan itu gapapa banget. Sebenernya saya juga orang yang kurang gampang memaafkan, tapi saya fokuskan energi “kecewa” itu untuk pengembangan diri saya. Mulai dari baca buku-buku yang bisa kasih saya insight baru, ikut-ikut workshop, classes, ambil sertifikasi sampai rutin konseling ke psikolog. Semua saya upayakan untuk bertumbuh dan akhirnya energi “kecewa itu” menjadi bensin yang positif. Anak-anak saya-lah yang paling merasakan perubahan itu. Hanya ini yang saya mau. 

A – Bandung: apa nasihat kak Kania untuk seorang Ibu yang merasa gagal sbg orang tua setiap harinya? Terima kasih 🙏🏼

Mbak Kania: Be gentle with yourself. You are still a work in progress. Senang-sedih, jangan berhenti mem-validasi diri sendiri, karena hanya diri kita yang bisa memberikan self-love. Nobody can give you self-love, you need to provide yourself that. Celebrate small wins, karena hanya momen-momen kecil yang kita sadari, yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki.

Hubungan Orang Tua – Anak yang Tidak Menggurui, Sebagai Partner

T – Cibubur: teh kania, ijin tanya bagaimana berusaha menahan ego sebagai orang tua terhadap sikap perilaku anak yg mungkin kurang berkenan dihati agak tidak seperti menggurui / marah marah atau bagaimana teteh bs mengelola emosi dalam diri ke anak ? thank you 🙂

Mbak Kania: Saya tidak bisa mengelola emosi anak saya kalau saya tidak mengelola emosi saya duluan. Saya harus regulasi diri saya dulu baru anak saya juga ikut “calm down”. Saya juga belajar dari Lisa D’amour, disaat anak saya berperilaku kurang menyenangkan— It’s not personal. Their unpleasant behaviour is never to attack us. Karena belum sempurna-nya pertumbuhan otak mereka  mempengaruhi tata emosi, perilaku dan gaya komunikasi mereka. Ditambah, kita adalah safe spot mereka, jadi wajar mereka menjadi diri sendiri saat bersama kita. Makanya penting, kita sebagai org dewasa yg men-contohkan- bagaimana gaya komunikasi dan bersikap yg lebih pantas, sehingga mereka punya “benchmark” yg baik.

R – Jakarta: Apakah dalam praktik gentle parenting, terjadi tarik menarik ego antara orang tua dengan anak? Bentuknya, yg ditulis dalam buku, apa saja? Seandainya 35 pertanyaan itu masih disensor sama anak-anak, last minute sebelum naik cetak, apa yang Kak Kania lakukan? Hehehe

Mbak Kania: Ya tentu terjadi, tapi saya mau komit dengan apa yg saya pelajari dalam sepuluh tahun terakhir ini. Bahwa privasi anak2, blessing mereka, kenyamanan mereka penting buat saya. Saya juga mau melahirkan karya yang bukan saya aja yg bangga, tapi anak anak saya pun bangga. Karena tanpa mereka, buku ini tidak akan ada. What they feel and think about this book is the most important element for me. 

N – Sidoarjo: Ada konsep parenting 7 tahun pertama perlakukan anak layaknya raja, 7-14 tahun layaknya tawanan, lebih dari 14 tahun layaknya sahabat. Menurut teh Keke apakah konsep itu masih relate diterapkan untuk parenting saat ini?

Mbak Kania: Saya belum pernah dengar konsep itu, tapi saya tidak pernah mau memperlakukan siapapun seperti Raja ataupun seperti tawanan. I only want to treat people the way I want to be treated. Kalau saya memperlakukan anak dengan “respect” pasti mereka akan tumbuh menjadi teman kita. Kesadaran ini cukup untuk menjadi basis parenting saya sekarang. 

D – Aceh: Sejak anakku lahir, aku sangat berusaha untuk menjadi conscious parent. Aku belajar banyak banget dan hubunganku dengan anakku sangat sangat baik (he’s 12, btw). We talked all the time. But the problem is, he feels so safe at home, he thinks the world outside is also a safe place. He’s so confident, sometimes it scares me. Have you ever feel that way to your children? what do you think about it?

Mbak Kania: I have answered this in the zoom. I don’t see anything wrong with a confident child. If my child is confident in her own skin and loudly speaking her mind, I think I have done a great job. You are scared because your child is showing a quality that you wish you had when you were his age, and you are not familiar with this progress. Your job as a parent is to embrace their strength!

I – Depok: Teh keke, gimana pandangan teteh tentang ‘anak ngga butuh temen lagi, mereka butuh ibu’ dlm. konteks ‘berteman dengan anak’

Mbak Kania: Tergantung anak ini usia berapa? Manusia kan makhluk sosial, jadi secara fitrah dan naluri we want to feel belong. Menurut saya dari POV seorang anak, saya butuh teman dan saya juga butuh Ibu saya, berapapun usia saya. Teman2 saya membantu proses eksplorasi diri saya, sedangkan Ibu memberikan saya “rasa aman” dan menjadi tempat saya pulang. Kalau mau proses tumbuh kembang anak berjalan baik, keduanya harus jalan beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Difficult Conversation

S – Depok: (1) Bab 1: Membincang tentang sebuah issue ketika ortu sendiri masih belum mindful dan memahami dengan utuh tentang issue tsb. Misal: kematian atau kehilangan. Bagaimana bisa merespon pertanyaan anak dengan terbuka, relaks, dan insightful? (2) Bab 3: Bagaimana menanggapi keinginan anak untuk quit padahal saya dan dia sama-sama memahami bahwa apa yang tengah digeluti anak saat ini adalah momen ikigai baginya.

Mbak Kania: (1) Selama kita stagnan tidak belajar apa apa, terutama tidak mengenal diri sendiri, kita tidak akan bisa merespon anak dengan santai dan dengan pikiran terbuka. Mulai dulu dari diri sendiri. (2) Baca bab “Black Belt” ya 😉

S – BSD: Bagaimana Mba Kania memandang ttg privasi/rahasia anak dan dalam batasan apa Mba Kania membiarkan anak memiliki privasi/rahasia Bagaimana kita sbg orang tua dapat mengantisipasi agar privasi/rahasia anak tidak akan membahayakan anak ke depannya?  

Mbak Kania: Saya menghormati privasi anak, dengan level boundaries yg disesuaikan berdasarkan usia dan kematangan emosi. Kalau masalah online access (pengunaan laptop/device/email/dll) kita sama-sama tahu selama mereka dibawah 18 tahun, tidak boleh ada rahasia. 
Kita sudah sepakat bahwa orangtua & guru akan selalu cek from time to time, aktivitas apa yg mereka lakukan (dan ini pun secara teknis bisa kita monitor). Selain itu, saya selalu bilang dan jamin, saya menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Jadi tugas saya memastikan anak-anak merasa aman berbagi informasi apapun sama saya.

U – Subang: Mbak kania aku sempat ditanya oleh anak kecil yang umurnya 7 tahun dan sekarang posisinya aku belum menjadi seorang ibu, ia bertanya mengapa ada toko yang menjual obat dan jamu perkasa karena dia sering lewat toko tersebut ketika akan pergi ke sekolah saat itu aku menjelaskan dengan ilmu biologi yang aku dapat di sekolah dan tidak menavigasikannya untuk berpikiran yang aneh-aneh. menurut mba kania bagaimana menghadapi pertanyaan tersebut. terima kasih

Mbak Kania: Anakku juga pernah bertanya seperti itu, saat jalan lewatin sex shop di Australia. Pada saat itu aku jawabnya dari sisi kesehatan saja yg aku rasa “appropriate” untuk usia mereka,  “oh itu kaya semacam vitamin untuk kesehatan penis. Sama kaya mama minum vitamin buat kulit/kuku/rambut—genital kita juga perlu vitamin”.

H – Tangsel: sangat relate karena saya punya anak perempuan 13 & 11 tahun dan laki-laki usia 7tahun. Mau tanya, apa hal tersulit atau yang ter-shocking yang pernah dihadapi di remaja perempuan dan laki2 pre-teen? Dan bagaimana mba Keke dan anak2 overcome itu semua? 

Mbak Kania: Mungkin perubahan emosi yang di pengaruhi perubahan hormon yang cukup challenging untuk saya. Contoh: Mendadak emosi mereka meledak-ledak tapi mendadak banyak diam. Setiap hari seperti teka teki dan tidak begitu bisa di prediksi. Lucu deh. 
Bagaimana aku overcome itu? ya aku anggap pengalaman yang menarik aja. “Ngobrol adalah kunci” and not every action deserves a reaction.

S – Banda Aceh: Makasih sharingnya kak Kania. Blessing banget punya orangtua kayak mama dan papa kak Kania, bisa menerima kakak di proses bertumbuhnya kakak. Aku punya anak perempuan juga kak, masih 6 tahun, tapi aku kebayang gimana suatu hari kalau misalnya dia “bandel”. Apakah aku yang mungkin tumbuh jadi anak “nurut” bisa menerima kesalahan dia kedepannya. Apalagu tumbuh besar di Aceh, nilai2 keislaman tu lumayan saklek ditanamkan. Tapi bener kak, belajar soal spiritual membantu aku rebel setelah jadi orang tua secara pikiran dan rasanya liberating, dan gak takut lagi jadi orang tua kedepannya, insyaAllah 😍 Gk mau tanya, tapi cuma pingin bilang makasih sama sharingnya hari ini ya kak ❤️❤️❤️ ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥

Mbak Kania: Aku rasa kita harus stop me-label anak dengan kata2 “bandel” atau “nakal”. Mereka sedang ber proses, begitupun kita sebagai orgtua. Tapi proses perkembangan mereka betul-betul bergantung pada bagaimana kita mem-fasilitasi mereka. Jadi sebenernya ga ada anak yg bandel, adanya orang tua yang tidak paham atau tidak cukup tools untuk menghadapi proses tersebut.

Peran Suami dan Ayah

B – JakSel: Kak Kania, mau tanya dong, bagaimana cara Kakak membagi peran dengan suami terkait membangun obrolan dengan anak, agar anak bisa memahami betul POV masing² ortu tanpa membuat dia merasa ‘didikte’ atau ‘digurui’? 

Mbak Kania: Jujur peran suami istri itu tricky ya, bahkan untukku sendiri. Pembagian peran itu tidak akan pernah adil, pasti akan ada satu orang yg lebih banyak “mengisi”. Tapi disaat suamiku hadir, aku berusaha meng-update dia dengan kebutuhan anak-anak (materi & sosio emosional), sehingga dia bisa menggunakan waktunya utk mengisi kebutuhan itu, apalagi kalau ada yang perlu di omongin. Kita cuma bisa berusaha, proses anak untuk paham sesuatu juga kan tidak instan, musti pelan-pelan tapi konsisten ngobrolnya.  Ibarat makan yang sehat; makan secukupnya, tapi konsisten pada waktunya.

Sekali lagi, Terima Kasih untuk Buibu dan Manteman yang sudah hadir, bertanya, dan meramaikan sesi diskusi pekan lalu! Semoga beberapa jawaban di atas memenuhi rasa ingin tahu Buibu dan Manteman dan semakin bersemangat untuk jadi orang tua dan individu yang terus bertransformasi untuk jadi lebih baik lagi.

Baca juga ulasan buku Can I Talk to You dari #BBBBabes Puty di sini!

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.