Ditulis oleh Content Team, Afra Afifah
Sabtu pagi, 31 Januari 2026, menjadi hari yang cerah untuk memulai petualangan. BBB Book Club kembali mengajak Buibu dan Manteman kegiatan bertajuk Jelajah Kota dan Kata: Gongka, Pecinan, dan Jejak Low Emission Zone di Kota Tua Jakarta. Perjalanan kali ini berkolaborasi dengan Jakarta Good Guide dan Vital Strategies.
Sejak pukul 08.00 WIB, peserta sudah berkumpul di Stasiun Jakarta Kota dengan penuh semangat. Kawasan bersejarah ini menjadi titik awal untuk menelusuri jejak masa lalu, memahami dinamika ruang publik, sekaligus belajar tentang pentingnya zona emisi rendah di wilayah Kota Tua dan Pecinan Glodok. Yuk ikut keseruannya!
Menyapa Sejarah di Lapangan Fatahillah

Perjalanan dimulai dari Lapangan Fatahillah. Di tengah bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda, teman-teman dari Jakarta Good Guide mengajak BBB BFF untuk menyelami cerita tentang fungsi gedung-gedung tersebut pada masa penjajahan.
Setiap sudut menyimpan kisah. Dari arsitektur hingga tata kota, peserta diajak membayangkan bagaimana kawasan ini dahulu menjadi pusat pemerintahan. Banyak sekali fakta-fakta baru yang diketahui ketika melihat-lihat tempat ini.
Refleksi di Jembatan Budaya Kali Besar
Langkah kemudian berlanjut ke Jembatan Budaya Kali Besar. Di sini, peserta tidak hanya menikmati pemandangan kanal yang ikonik, tapi juga belajar fakta penting: permukaan tanah Jakarta ternyata terus menurun dari tahun ke tahun, yang tentu saja meningkatkan risiko banjir!

Dialog kecil pun tercipta. Kota bukan hanya tentang bangunan bersejarah, tetapi juga tentang bagaimana kita merawatnya agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
Dinamika Pecinan Glodok

Dari kawasan Kali Besar, rombongan bergerak menuju Petak Enam, destinasi wisata kuliner yang ramai dan terkenal. Beberapa peserta menyempatkan diri mencicipi jajanan seperti donat, mochi, hingga cempedak goreng dan choi pan.
Hanya sepelemparan batu dari Petak Enam, ada Gang Kalimati, BBB BFF menyaksikan aktivitas warga dan interaksi hangat di kawasan kuliner dalam gang sempit yang hidup dan dinamis. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Vihara Toa Se Bio, peserta diajak mengenal sejarah salah satu vihara tertua di Jakarta. Tidak hanya mendengar penjelasan, namun juga berkesempatan masuk dan melihat langsung interior vihara yang sarat nilai budaya. Tak jauh dari sana, berdiri dengan kokoh Gereja Santa Maria de Fatima, gereja berarsitektur khas Tionghoa yang telah lama menjadi simbol akulturasi budaya di kawasan ini.
Perjalanan di Pecinan ditutup dengan menyusuri Petak Sembilan, pasar tradisional yang tidak hanya menjual kebutuhan sehari-hari sebagaimana pasar pada ummumnya, namun juga memperlihatkan wajah autentik Glodok dengan aneka bahan pangan, obat tradisional, dan pernak-pernik khas.
Membahas Zona Emisi Rendah di Pantjoran Tea House
Setelah menempuh rute yang kaya cerita, BBB BFF berkumpul di Pantjoran Tea House. Di tempat yang hangat dan sarat nuansa budaya ini, tim Vital Strategies menjelaskan tentang Low Emission Zone (LEZ) atau zona emisi rendah yang telah diterapkan di kawasan Kota Tua. Peserta diajak memahami bagaimana kebijakan ini berperan dalam meningkatkan kualitas udara, menciptakan ruang publik yang lebih sehat, serta mendukung keberlanjutan kota.
Lalu acara ditutup dengan makan siang bersama yang hangat dan menyenangkan. Istimewanya, ada sesi live pembuatan teh otentik bersama tim dari Pantjoran Tea House. Buibu dan Manteman juga bisa merasakan teh yang baru dibuat Harumnya teh yang diseduh dengan teknik tradisional menjadi penutup manis perjalanan hari itu.
Menjaga Kota, Menjaga Cerita
Acara ‘Jelajah Kota dan Kata’ bukan sekadar walking tour. Ia adalah ruang belajar bersama tentang sejarah yang kaya, budaya yang beragam, dan tanggung jawab menjaga kota agar tetap hidup dan ramah lingkungan.
Terima kasih untuk seluruh kolaborator, narasumber, dan BBB BFF yang sudah berjalan bersama menyusuri jejak kota dengan antusias. Sampai bertemu di perjalanan berikutnya!



