Ditulis oleh Content Team, Gita Laras W
Di tengah tuntutan peran sebagai ibu, mulai dari menyiapkan kebutuhan hingga mendampingi tumbuh kembang anak, tak jarang ibu tanpa sadar melupakan dirinya sendiri. Terkadang, karena terlalu fokus pada anak, waktu untuk me-time jadi terabaikan. Ruang untuk mengeksplor hal-hal yang disukai pun semakin sempit. Bahkan, keinginan untuk memprioritaskan diri sendiri sering kali dibayangi rasa bersalah.
Untuk membahas isu ini, BBB bersama Sekolah Murid Merdeka (SMM) mengadakan sesi diskusi yang diselenggarakan pada Minggu, 8 Februari 2026. Acara ini bertujuan membantu ibu terhindar dari burnout serta menemukan kembali jati diri melalui journaling, juga memahami manfaatnya bagi anak.
Belajar Memahami Kebutuhan Diri Sendiri
Pada kesempatan tersebut, Yulia Indriati, (Co-Founder Keluarga Kita dan Head of Partnership SMM), menyampaikan bahwa kondisi di mana ibu merasa kewalahan (burn out) karena tuntutan sehari-hari memang kerap ditemui. Tak dapat dipungkiri bahwa sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk memahami kebutuhan anak sesuai fase perkembangannya dan memberikan apa yang mereka perlukan di tahap tersebut. Meski begitu, menurut Kak Yulia, selain memahami anak, ibu juga perlu memahami diri sendiri.
“Kita juga harus paham diri sendiri sekarang ada di mana, perkembangannya seperti apa, sesuai usia dan kebutuhan kita,”
Yulia Indriati
Kak Yulia menambahkan, kesadaran diri ini penting agar kita tidak terjebak dalam tarik-menarik antara apa yang benar-benar kita butuhkan dan pengaruh faktor eksternal seperti media sosial. Lalu, bagaimana cara tahu apa yang kita suka dan butuhkan? Journaling bisa menjadi salah satunya.
“Untuk mengetahuinya, perlu menjadi reflektif. Dan menjadi reflektif itu banyak tools-nya, salah satunya dengan journaling yang paling accessible. Kalau bingung, coba aja nulis. Mengeluarkan apa yang di pikiran dan tanya ke diri apa yang disuka,”
Yulia Indriati
Kalau masih bingung memahami apa yang sebenarnya kita suka dan butuhkan, coba mulai dengan satu pertanyaan sederhana: hal apa yang, kalau tidak dilakukan, membuat hidup terasa sumpek dan tidak enak? Dari situ, kita bisa pelan-pelan menemukan kebutuhan dasar diri sendiri. Dengan menyadari hal apa yang “hilang” dalam satu minggu dan bagaimana dampaknya pada perasaan yang jadi kacau balau, kita jadi lebih paham kebutuhan diri. Ibarat fondasi bangunan, hal tersebut menjadi landasan yang harus dipasang agar tetap kuat meski diterpa apa pun.
“Akan lebih baik jika semua itu dituliskan. Selain membantu merapikan pikiran, catatan yang well-documented bisa dilihat-lihat lagi kapan saja,”
Yulia Indriati
Hal ini juga diamini oleh Puty Puar, (Founder BBB dan Penulis Buku “Empowered ME”). Kak Puty mengatakan, journaling memang tidak langsung membuat kita tiba-tiba menjadi less anxious atau langsung menyelesaikan semua masalah. Namun, journaling membantu merunut sumber kecemasan.
Journaling: Langkah Aman Mengurai Kecemasan
Melalui journaling, kecemasan yang semula terasa abstrak, bisa diurai dan ditemukan akar masalahnya. Ketika sumbernya sudah lebih jelas, masalah pun menjadi lebih mudah untuk dihadapi dan diselesaikan.
“Orang suka berpikir kalau kita mau journaling harus udah tau apa yang mau ditulis. Sebetulnya terbalik. Kadang justru setelah kita menulis, baru kepikiran dan masalah jadi terartikulasi,”
Puty Puar
Ia menambahkan, kita tidak perlu punya patokan bahwa journaling harus bagus. Justru ketika ada proses mengedit, di situlah proses berpikir dan merunutkan masalah terjadi.
“Jangan takut dengan kertas kosong, duduk, siapkan waktu, dan hadapi,”
Puty Puar
Kebiasaan reflektif melalui journaling ini juga pada akhirnya bisa diterapkan ke anak dan menjadi salah satu cara bonding dengan mereka. Reflektif sendiri menjadi salah satu kompetensi yang diterapkan di SMM agar anak terbiasa mengungkapkan pikiran dan isi hatinya. Buibu dan Manteman juga bisa membiasakan dan menjadikan menulis di rumah sebagai saluran yang aman dan efektif untuk “menumpahkan” isi kepala dan hati Si Kecil. Ketika anak terbiasa merefleksikan perasaan dan pikirannya, proses kognitifnya semakin matang dan kreativitas anak juga ikut tumbuh.
Jika Buibu dan Manteman ingin rutin journaling, menurut Kak Puty, sebaiknya jangan takut untuk memulai. Tidak perlu memberi ekspektasi berlebihan pada diri sendiri, tidak harus rapi, tidak wajib mengikuti framework tertentu, dan tidak harus selalu terisi setiap hari. Kalau tidak bisa journaling hari ini, bisa dilanjutkan kembali esok hari.
Jangan Takut Memulai
Hal ini sama seperti peran sebagai ibu. Ada fase ketika kita merasa tidak sempurna, muncul rasa bersalah, minder, dan perasaan membandingkan diri dengan orang lain. Naik-turun itu wajar dan merupakan bagian dari kehidupan. Yang penting adalah bagaimana kita menavigasi proses tersebut dan lebih berbaik hati pada diri sendiri.
“Jadi, menurut aku terus refleksi, terima ketidaksempurnaan, tapi address itu dengan action dan konsisten,”
Puty Puar
Nah, jika Buibu ingin terhindar dari burn out, lebih kenal diri sendiri, konsisten, dan rutin journaling, mungkin bisa terbantu dengan membaca beberapa rekomendasi buku berikut:




Selamat berproses!



