Ditulis oleh Content Team, Safira Pratiwi

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang ibu banyak mengambil keputusan yang tampaknya sederhana – menentukan lauk dirumah, membeli produk lokal atau import hingga memilih sekolah untuk anak. Dibalik keputusan-keputusan tersebut, ada hubungannya dengan kebijakan publik yang lebih luas.

Hal inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam webinar “Peran Ibu untuk Kebijakan yang Lebih Berkeadilan”, kolaborasi antara BBB, Cariustadz.id dan Ibu Berisik. Webinar ini merupakan bagian dari program Politics & Policy Literacy for Mothers yang diinisasi oleh BBB untuk meningkatkan literasi politik dan mendorong partisipasi para ibu dalam isu kebijakan publik.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ustadz Muhammad Rafi dari Cariustadz.id; seorang dai, penulis dan konsultan keagamaan, dan Mbak Widya dari Ibu Berisik, seorang ibu yang berjuang menciptakan masa depan yang lebih baik untuk perempuan, pendidikan anak dan pembangunan berkelanjutan.

Keadilan dalam Perspektif Islam

Dalam pemaparannya, Ustadz Rafi mengajak peserta untuk merefleksikan pertanyaan mendasar: apakah politik itu diperlukan?

Menurutnya, dalam perspektif Islam, politik bukan perebutan kekuasaan. Politik merupakan sarana untuk mengatur kehidupan bersama agar tercapai keadilan dan kemaslahatan.

Secara bahasa, kata adil dalam bahasa Arab bermakna lurus, seimbang dan tidak menyimpang. Dalam Al-Quran, keadilan merupakan kesamaan hak, keseimbangan dan proporsional, serta ketepatan dalam perhatian dan memberikan perhatian kepada setiap hak. Keadilan dalam Islam adalah sesuatu yang paling dekat dengan ketakwaan.

Muuhammad Rafi merujuk pada buku Islam dan Politik karya M. Quraish Shihab, yang menjelaskan bahwa politik dalam Islam itu sederhana; untuk keadilan dan kemaslahatan bersama. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad Saw dan para sahabat menekankan bahwa politik merupakan integritas, amanah, moralitas serta kemaslahatan umum.

Realitas Politik di Dunia Modern

Walaupun secara teori politik memiliki tujuan untuk keadilan dan kemaslahatan tapi dalam praktiknya politik modern seringkali jauh dari kata ideal.

Ustadz Rafi menyoroti beberapa praktik politik saat ini, seperti mendominasi kekuasaan, konflik antar negara, dan lemahnya hukum internasional untuk kepentingan global. Selain itu, politik digital juga menjadi sasaran propaganda dan disinformasi yang dampaknya pada masyarakat dunia.

Di Indonesia, kebijakan sosial dan ekonomi telah mengarah pada keadilan sosial, namun belum sepenuhnya merata dalam praktiknya, seperti kesenjangan akses dan manfaat kebijakan masih sering terjadi. Kelompok rentan belum terwakili secara optimal dalam proses pengambilan kebijakan. Pengaruh kepentingan elit juga masih kuat dalam politik dan ekonomi.

Karena itu penguatan keadilan sosial membutuhkan partisipasi publik yang bermakna, transparansi dan akuntabilitas kebijakan, peran aktif masyarakat sipil dan kebijakan berbasis data dan keadilan sosial.

Pengalaman Ibu dalam Kehidupan Sehari-hari

Mbak Widya sebagai perwakilan dari komunitas Ibu Berisik kemudian memberikan perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari para ibu. Menurutnya, hampir semua keputusan-keputusan yang para ibu buat sebenarnya memiliki dimensi politik.

“Everything is political, parenting itu politik”, ujarnya.

Mengajarkan anak berlaku jujur, menyekolahkan anak di sekolah negeri atau swasta, memilih untuk memasak daripada membeli hingga memilih buah lokal daripada impor. Semua keputusan tersebut berkaitan dengan sistem kebijakan yang lebih luas.

Pengalamannya yang pernah tinggal di Sulawesi dan Jawa membuatnya merasakan ketimpangan pembangunan dan kebijakan antarwilayah. Hal inilah yang kemudian membuat Mbak Widya akhirnya bersuara. Menurutnya, suara ibu menjadi penting untuk memastikan kebijakan yang adil, setara dan inklusif. Ibu merasakan dampak langsung dari setiap kebijakan dan akhirnya menjadi pihak yang harus mengelola dampak yang timbul akibat kebijakan tersebut.

Memulai dari langkah kecil

Dalam diskusinya, Mbak WIdya menekankan bahwa para ibu harus sadar bahwa setiap pilihan yang diambil adalah sikap politis. Pentingnya untuk meningkatkan literasi politik, memahami hak sebagai warga negara dan bergabung dengan komunitas untuk menyuarakan pendapat yang sama. Contoh sederhana yang bisa dilakukan adalah memperkuat ekonomi lokal dengan membeli produk dari petani atau pasar setempat.

Pendekatan tanpa kekerasan juga menjadi salah satu strategi yang bisa dilakukan oleh para ibu. Menurut Erica Chenoweth (2013), gerakan non-kekerasan yang melibatkan 3,5% populasi sebuah negara memiliki peluang besar untuk membawa perubahan politik yang signifikan.

“Untuk menjaga kewarasan, kita harus selalu bergandengan” – Ibu Berisik

Pendidikan Anak dan Gerakan Komunitas

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga mengangkat berbagai pertanyaan terkait keterlibatan ibu dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pertanyaan adalah bagaimana menyikapi ketidakadilan melalui tindakan yang sederhana, seperti memilih sekolah swasta untuk anak. Menanggapi hal ini, Muhammad Rafi menjelaskan bahwa tindakan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk ikhtiar untuk memperjuangkan nilai yang diyakini.

DIskusi juga menyinggung penting kekuatan komunitas. Para ibu didorong untuk bergabung dengan komunitas yang memiliki kepedulian yang serupa agar saling mendukung dan memperkuat suara bersama, untuk mendorong kebijakan yang lebih adil.

Webinar ini tidak hanya berdiskusi tentang politik dan kebijakan, secara umum dan Islam, tetapi juga membuka ruang untuk para ibu melihat kembali peran mereka dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Karena pada akhirnya, perubahan bisa dimulai dari rumah – dari percakapan sehari-hari, keputusan-keputusan kecil dan para ibu yang saling bergandengan untuk masa depan yang lebih baik.

Terima kasih kepada kolaborator, narasumber, dan Buibu dan Manteman yang sudah antusias mengikuti webinar kali ini. Sampai bertemu lagi dalam kesempatan selanjutnya!

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.