Membahas Energi untuk Masa Depan yang Lebih Baik bersama BBB dan IESR

Ditulis oleh content team Afra Afifah

Pada Minggu pagi yang mendung tanggal 24 Mei 2026, Twin House Blok M dipenuhi obrolan tentang buku, energi, dan masa depan bumi. Melalui acara bertajuk Membaca Energi Kini, Menulis Harapan Masa Depan, BBB Book Club berkolaborasi dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) mengajak Buibu dan Manteman untuk mendiskusikan isu seputar krisis iklim, transisi energi, dan keberlanjutan.

Peserta diajak melihat kaitan antara kehidupan sehari-hari, sistem energi global, dan isu lingkungan yang tengah dihadapi dunia. Diskusi berlangsung santai namun penuh refleksi, menghadirkan berbagai sudut pandang yang memperkaya pemahaman peserta tentang isu yang mungkin terasa jauh dan begitu luas, padahal sangat dekat dengan kehidupan kita.

Membaca Krisis Iklim melalui Less is More

Sesi pertama dibawakan oleh Kak Puty Puar dari BBB Book Club yang mengulas buku Less is More karya Jason Hickel. Melalui buku ini, peserta diajak memahami hubungan antara krisis iklim, pertumbuhan ekonomi, kapitalisme, dan ketimpangan sosial. Buku ini mengangkat gagasan bahwa bumi memang memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri. Namun, jika eksploitasi sumber daya terus dilakukan tanpa batas, kemampuan tersebut dapat mencapai titik jenuh dan berisiko memicu kerusakan lingkungan yang lebih besar.

Kak Puty menjelaskan bahwa pertumbuhan bukanlah sesuatu yang harus ditolak sepenuhnya. Yang menjadi pertanyaan penting adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut dapat berlangsung dan siapa yang menikmati manfaatnya.

Alih-alih terus mengejar pertumbuhan tanpa batas, manusia perlu belajar menjaga keseimbangan dan memastikan distribusi kesejahteraan yang lebih merata.
Puty Puar

Pernyataan ini kemudian dikaitkan dengan isu transisi energi. Ketika energi terbarukan semakin berkembang, siapa yang akan memperoleh manfaat terbesar dari perubahan tersebut? Apakah keuntungan hanya dinikmati oleh segelintir pihak, atau dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat luas?

Klik gambar di samping untuk mengakses ulasan lengkap dari buku ini

Memahami Fondasi Energi di Balik Kehidupan Sehari-hari

Sesi berikutnya menghadirkan Kak Vinka Maharani dari BBB Book Club yang membahas buku How the World Really Works karya Vaclav Smil.

Melalui pemaparannya, hadirin diajak mempertanyakan kembali seberapa jauh kita memahami energi yang menopang kehidupan modern. Banyak hal yang tampak sederhana dalam keseharian ternyata bergantung pada sistem energi yang kompleks.

Kak Vinka menjelaskan empat pilar utama yang menopang peradaban modern, yaitu semen, pupuk amonia, plastik, dan baja. Keempatnya merupakan “infrastruktur tak terlihat” yang menjadi fondasi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pembangunan kota hingga sistem pangan global. Menariknya, produksi keempat komponen tersebut hingga saat ini masih sangat bergantung pada energi fosil.

“Isu pangan merupakan salah satu contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari terutama ibu-ibu. Untuk memberi makan miliaran manusia di dunia, dibutuhkan pupuk nitrogen, sistem pertanian modern, teknologi pertanian, serta rantai pasok global yang saling terhubung. Dari sini peserta diajak melihat bahwa persoalan energi tidak pernah berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan berbagai sektor kehidupan,”
Vinka Maharani

Diskusi juga menyoroti ketimpangan kontribusi emisi global. Hanya segelintir negara yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi dunia, menunjukkan bahwa persoalan perubahan iklim tidak dapat dilepaskan dari isu keadilan dan tanggung jawab bersama.

Langkah Kecil untuk Perubahan Besar

Kemudian Kak Dwi Cahya Agung Saputra dari IESR membahas buku Small Steps, Big Change karya Annemarie Cool sekaligus menjelaskan kondisi energi dan iklim saat ini.

Peserta diajak memahami bagaimana perubahan iklim yang terjadi saat ini merupakan dampak dari pemanasan global akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca. Kak Dwi mengibaratkan bumi seperti seseorang yang sedang demam, berbagai fenomena cuaca ekstrem yang kerap terjadi dapat dilihat sebagai tanda bahwa bumi sedang mengalami masalah yang tidak bisa dianggap remeh.

Emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya terus menumpuk di atmosfer sehingga panas terperangkap dan suhu bumi meningkat. Tren emisi global sendiri terus mengalami kenaikan sejak pertengahan abad ke-19 dan hanya mengalami penurunan signifikan pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19 membatasi berbagai aktivitas manusia.

“Meski kontribusi Indonesia terhadap emisi global berada di kisaran 2,1 persen, angka tersebut tetap cukup signifikan di kawasan Asia. Di sisi lain, pembangkit listrik di Indonesia hingga kini masih didominasi oleh energi fosil. Karena itu, transisi menuju energi yang lebih bersih menjadi tantangan sekaligus kebutuhan yang tidak dapat dihindari,”
Dwi Cahya Agung Saputra

Kak Dwi menekankan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pemerintah atau industri, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh pihak, termasuk masyarakat.

Bertukar Gagasan, Menumbuhkan Harapan

Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan buku dan berbagai isu yang telah dibahas sepanjang acara. Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif, mempertemukan beragam perspektif serta pengalaman dari para peserta.

Melalui Membaca Energi Kini, Menulis Harapan Masa Depan, BBB Book Club dan IESR mengingatkan bahwa isu energi dan perubahan iklim bukanlah persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dari langkah kecil yang dilakukan, selalu ada ruang dan harapan untuk berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Terima kasih untuk kolaborator dan Buibu dan Manteman yang sudah berpartisipasi dalam kegiatan kali ini. Sampai bertemu di diskusi berikutnya!

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.