Energi Sebagai Super Power: Kenapa Transisi Menuju Energi Bersih Penting untuk Indonesia

Transisi energi bisa jadi topik yang belum cukup familiar di telinga kita. Tapi, tahukah Buibu dan Manteman bahwa negara yang maju dan kuat biasanya memiliki sumber energi yang mandiri? Bagaimana dengan Indonesia yang punya potensi energi bersih yang besar? Apakah hal ini berkaitan dengan peluang untuk generasi masa depan?

Untuk menjawab hal ini, kami berbincang dengan Rachel Shannon Twigivanya (Senior Climate Research & Program Officer Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI)) dalam diskusi yang bertajuk Powering the Next Generation:  Membuka Peluang Masa Depan Anak di Tengah Transisi Energi Hijau Global. Bahas apa aja sih? Simak sama-sama yuk!

Posisi Menentukan Prestasi

Diskusi ini dibuka oleh kak Vinka Maharani yang mengulas buku The Prisoners of Geography karya seorang jurnalis asal Inggris, Tim Marshall. Buku ini membahas bagaimana lokasi geografis suatu negara dapat menjadi kelemahan sekaligus kekuatan juga sebagai faktor yang menentukan kebijakan luar negeri suatu negara.

“Geography is clearly a fundamental part of the ‘why’
as well as the ‘what’?”

Tim Marshall dalam The Prisoners of Geography

Kak Vinka membahas peta Amerika Serikat dan Rusia dalam diskusi ini, dan menunjukkan bagaimana kedua negara besar ini memiliki sumber energi yang besar dan membuat posisi mereka penting di kancah global.

Indonesia, Konflik Geopolitik, dan Ketergantungan Pada Energi Fosil

Buibu dan Manteman tentu tidak asing dengan konflik geopolitik yang cukup memanas akhir-akhir ini. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, hal ini menimbulkan kelangkaan energi dan kenaikan harga dalam berbagai sektor. Indonesia, meskipun termasuk sebagai salah satu negara yang terdampak, ternyata posisinya masih “cukup aman”. Hal ini disebut kak Rachel disebabkan oleh sumber energi listrik Indonesia yang 80% nya masih berasal dari bahan bakar fosil, dan konsumsi minyak Indonesia yang berasal dari negara Timur Tengah adalah 19% dari total impor.

Namun, kita tidak boleh lengah pada posisi aman ini. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dampak jangka panjangnya, yaitu:

  1. Indonesia tidak dapat terus bergantung pada energi fosil. Fosil adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan dan memiliki andil dalam penurunan kualitas udara dan kerusakan alam di sekitar tempat penambangan.
  2. Harga minyak dunia yang melonjak membuat harga BBM dan pangan ikut naik. Hal ini membuat pemerintah harus memberikan lebih banyak subsidi kepada masyarakat. Akibatnya, ruang fiskal Indonesia menjadi sempit.

Dengan kekayaan sumber daya alam dan posisi geografis yang berada persis di garis khatulistiwa dengan sinar matahari yang melimpah, seharusnya bertransisi ke energi surya bisa menjadi salah satu solusi bagi permasalahan di atas.

Transisi Sebagai Peluang

Menurut kak Rachel, Indonesia seharusnya melihat transisi energi sebagai peluang untuk menguatkan kedaulatan energi negara, meningkatkan kerja sama dengan negara lain dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan.

Negara yang mampu mengamankan pasokan energi akan lebih bertahan di tengah gejolak global, sementara negara yang bergantung pada energi impor akan lebih rentan.

Rachel Shannon Twigivanya
(Senior Climate Research & Program Officer
Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI))

Indonesia memang memiliki potensi energi bersih yang besar. Sebagai negara tropis, matahari bersinar sepanjang tahun di langit khatulistiwa. Tapi, sumber daya saja tidak cukup. Perlu ada sistem yang dapat mengolah sumber daya ini agar bisa menjadi energi dan memberi manfaat secara adil kepada seluruh masyarakat.

Termasuk dengan menyiapkan anak-anak kita agar mereka siap dengan tantangan dan lapangan pekerjaan baru yang akan muncul saat transisi energi berjalan.

Kesempatan untuk Generasi Masa Depan

Berdasarkan data Bappenas, di tahun 2030, akan ada 4,4 juta lapangan pekerjaan hijau baru. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika transisi energi tidak dikelola secara lebih serius. Selain itu, kita juga harus siap untuk menghadapi transisi ini!

Sebagai orang tua, apa yang bisa kita lakukan?

  1. Memperkenalkan anak dengan isu energi melalui buku cerita. Sekarang ini, sudah banyak buku anak yang mengangkat isu iklim dan energi. Salah satunya tentu saja buku Seri Keluarga Panik yang berjudul “Dari Mana Listrik Berasal?” dan “Cita-cita Penyelamat Bumi”. Buku cerita dapat menjadi pintu masuk belajar anak, juga menjadi bahan diskusi yang seru untuk anak dan orang tua.
  2. Mengikuti diskusi dan belajar tentang topik energi bersama orang-orang di sekitar agar pemahaman tidak berhenti hanya di keluarga. Seperti peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, pemahaman kolektif dapat membantu kelompok masyarakat untuk menentukan sikap terhadap isu energi. Dengan semakin banyak orang yang memahami urgensi dari isu ini, diharapkan kebutuhan akan kebijakan publik terkait pengelolaan energi dapat dilihat sebagai prioritas oleh para pemangku kekuasaan.

Terima kasih kepada Buibu dan Manteman yang sudah hadir dan belajar bersama soal energi. Juga kepada Kak Rachel dan FPCI Climate Unit yang sudah membagikan insights nya seputar transisi energi dan kesempatan untuk generasi mendatang di masa depan.

Sampai bertemu pada kesempatan lainnya!

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.