“Sebuah cerita dapat membawa anak ke dunia imajinasi. Namun, kekuatan cerita tidak berhenti di sana. Di berbagai tempat, cerita juga menjadi cara masyarakat mewariskan pengetahuan, nilai, bahkan cara menghadapi kehidupan.”
Menyambut akhir pekan, Buibu Baca Buku (BBB) bersama Goethe-Institut Bandung dan Leseclub Online menghadirkan “Kelas Dongeng: Dunia Imajinasi Si Buku Bengis Kecil”, yang diselenggarakan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Diskusi kali ini menghadirkan Rona Mentari, pendongeng profesional dan founder Rumah Dongeng Mentari, bersama Puty Puar dan Meita Eryanti dari BBB Book Club.
Sebagai pengantar diskusi kali ini, Leseclub Online memperkenalkan buku Si Buku Bengis Kecil karya Magnus Myst. Buku sastra Jerman ini merupakan buku interaktif yang memadukan cerita, teka-teki, humor, dan petualangan untuk mengajak pembaca terlibat langsung dalam alur cerita. Agenda dilanjutkan bersama Kak Rona yang memberikan sharing dan diskusi terkait mendongeng, mengajak peserta mengeksplorasi bagaimana sebuah buku dapat menjadi lebih hidup melalui interaksi dan seni bercerita.
Ketika Cerita Menjadi Ruang Belajar
Mendongeng lekat dengan aktivitas keluarga bersama anak. Namun, lebih dari sekadar hiburan, mendongeng dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan berbagai nilai dan pengalaman kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Melalui cerita yang mudah dipahami, anak dapat diajak mengenali berbagai emosi, membayangkan tokoh dan situasi, serta melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Proses tersebut secara alami dapat membantu mengembangkan imajinasi dan empati, memperkaya kosakata, sekaligus menumbuhkan ketertarikan terhadap aktivitas membaca dan menulis.
Di sisi lain, mendongeng juga memberikan ruang untuk membangun kedekatan antara pencerita dan pendengarnya. Ketika orang dewasa dan anak membaca serta membicarakan sebuah cerita bersama, tercipta momen untuk saling mendengarkan, berinteraksi, dan berbagi pengalaman. Dengan demikian, sebuah cerita tidak berhenti pada halaman buku, tetapi dapat menjadi awal dari percakapan dan pengalaman bersama.
Menjadi Pendongeng Dimulai dari Menjadi Pendengar
Bagi Kak Rona, kecintaan terhadap dunia dongeng telah tumbuh sejak masa kecil. Ia terbiasa bercerita kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya yang selalu bersedia menjadi pendengar. Pengalaman tersebut kemudian membentuk pandangannya tentang apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pendongeng.
“Untuk menjadi pendongeng yang baik, kita juga perlu belajar menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.”
Mendongeng bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan cerita, tetapi juga tentang memahami siapa yang mendengarkan. Terlebih ketika pendengarnya adalah anak-anak, seorang storyteller perlu peka terhadap respons dan perubahan perhatian mereka. Dari sinilah mendongeng menjadi sebuah proses interaksi. Pencerita bukan hanya berbicara kepada anak, tetapi juga membaca respons mereka dan menyesuaikan cara bercerita.
Everyone Is a Storyteller
Dalam kesempatan ini, Kak Rona mengingatkan bahwa pada dasarnya everyone is a storyteller. Langkah pertama dapat dimulai dengan memilih cerita yang memiliki makna bagi kita. Menurut Kak Rona, penting bagi pencerita untuk memiliki strong why atau alasan yang membuat cerita tersebut layak dan ingin disampaikan. Ketika pencerita memiliki hubungan dengan cerita yang dibawakan, cerita pun dapat tersampaikan dengan lebih tulus.
Kak Rona juga membagikan beberapa tips mendongeng yang dapat dicoba. Variasi intonasi, suara, dan gestur dapat digunakan untuk menghidupkan karakter dalam cerita. Pencerita juga perlu memikirkan bagaimana membuka cerita melalui takeoff yang menarik dan menutupnya dengan landing yang berkesan. Tips tersebut tidak harus dilakukan dengan teknik yang rumit, justru keberanian untuk bereksplorasi membuat proses mendongeng terasa lebih natural dan menyenangkan.
Nah, Kak Rona juga menjelaskan salah satu tantangan dalam mendongeng adalah menjaga perhatian pendengar. Anak-anak dapat dengan mudah kehilangan antusiasme ketika cerita berlangsung terlalu lama atau disampaikan dengan cara yang monoton. Seorang storyteller dapat mengambil jeda sejenak untuk membangun kembali perhatian. Anak dapat diajak terlibat secara langsung melalui gerakan atau aktivitas sederhana, misalnya menirukan gerakan karakter atau ikut mengucapkan bagian tertentu dari cerita. Dengan cara ini, anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut mengambil bagian dalam cerita yang sedang dibangun.
Dari Buku, Menuju Dunia Imajinasi
Melalui diskusi seni mendongeng kali ini, peserta diajak untuk menyadari bahwa membaca dan bercerita bukan hanya soal mengikuti barisan kata di buku. Cerita yang dibawakan secara interaktif bisa membuat buku jadi pintu masuk menuju dunia imajinasi yang lebih luas. Dari sinilah dongeng berkembang menjadi obrolan, permainan, pertanyaan baru, hingga kenangan indah bersama. Di tengah kesibukan orang dewasa, mendongeng hadir sebagai pengingat bahwa anak-anak hanya butuh seseorang yang mau meluangkan waktu untuk bercerita dan mendengarkan mereka.
Pada akhirnya, tujuan mendongeng bukanlah memaksa anak duduk diam menyimak sampai cerita selesai. Aktivitas ini sebenarnya bertujuan membuka ruang agar anak bisa ikut hadir, merespons, berimajinasi, dan merasa menjadi bagian penting dari cerita itu sendiri.
Terima kasih kepada Leseclub Online, Goethe-Institut Bandung, Rona Mentari, serta Buibu dan Manteman yang telah hadir dan meramaikan kegiatan ini. Semoga pertemuan kali ini menjadi awal dari lebih banyak momen membaca dan bercerita bersama anak—untuk menumbuhkan semangat bereksplorasi, berimajinasi, dan menemukan dunia melalui cerita. Sampai bertemu di kegiatan Buibu Baca Buku berikutnya!





