Ditulis oleh Content Team, Danis Ahnaf
Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Buibu Baca Buku mengadakan Bincang-Bincang Buku dengan mengangkat Buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern, karya sejarawan David Van Reybrouck. Diskusi ini tidak hanya membicarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga mengajak peserta melihat kembali revolusi melalui perspektif yang lebih luas, tentang dekolonisasi, peran perempuan, kekerasan, trauma antargenerasi serta bagaimana sejarah seharusnya dibaca dan dimaknai oleh generasi hari ini.
Hadir sebagai narasumber, Andi Tarigan, Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama, dan Gustika Jusuf-Hatta, peneliti sekaligus aktivis HAM. Keduanya membawa perspektif yang berbeda dalam membaca buku ini, dari dunia penerbitan hingga kajian sejarah, politik dan kemanusiaan.
Melihat Revolusi Indonesia dalam Sejarah Dunia
Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern ditulis oleh David Van Reybrouck dan pertama kali diterbitkan pada September 2025. Buku setebal 748 halaman ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku ini menempatkan revolusi Indonesia bukan hanya sebagai bagian dari sejarah nasional, tapi juga sebagai salah satu momentum penting dalam perubahan politik dunia. Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang menyatakan kemerdekaannya setelah Perang Dunia II. Perjuangan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik yang jauh lebih luas daripada sekadar pertentangan antara Indonesia dan Belanda. Ia menjadi bagian dari gelombang dekolonisasi global yang mengubah tatanan dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Indonesia kembali memainkan peran penting melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Konferensi tersebut mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika dalam sebuah forum internasional tanpa dominasi negara-negara Barat dan menjadi salah satu titik penting dalam perubahan politik internasional. Melalui Revolusi, Van Reybrouck berusaha melepaskan perjuangan kemerdekaan Indonesia dari kerangka nasional semata. Ia memperlihatkan bagaimana anak-anak muda pada masa itu turut meletakkan fondasi bagi lahirnya dunia baru. Kehidupan pada masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga perang dekolonisasi disusun bersama kesaksian dan kenangan personal dari mereka yang mengalaminya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Mengapa seorang penulis Eropa memilih menulis secara mendalam mengenai sejarah revolusi Indonesia?
Bagi Van Reybrouck, revolusi Indonesia merupakan tonggak penting dalam konstelasi sejarah dunia. Kemerdekaan Indonesia menandai lahirnya sebuah negara baru dan menjadi bagian dari proses runtuhnya kolonialisme Eropa dan munculnya negara-negara pascakolonial. Dengan demikian, Proklamasi 1945 dapat dilihat bukan hanya sebagai peristiwa yang membentuk Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu penanda perubahan besar dalam tatanan dunia. Indonesia memiliki posisi penting dalam proses lahirnya dunia modern tersebut dan hal inilah yang menjadi salah satu ketertarikan utama Van Reybrouck.
Perempuan Bukan Sekadar Saksi Revolusi
Salah satu hal menarik yang dibicarakan dalam diskusi adalah bagaimana buku ini memperlihatkan peran perempuan dalam revolusi Indonesia. Sejarah revolusi seringkali lebih banyak menghadirkan nama-nama laki-laki sebagai tokoh utama. Namun, di balik narasi tersebut, terdapat perempuan yang turut mengambil peran sebagai aktor sosial, politik dan intelektual. Salah satunya adalah Stenie, seorang perempuan Belanda yang justru mampu melampaui identitas dan posisi kolonialnya dengan membangun solidaritas bersama Indonesia. Kisahnya menunjukkan bahwa solidaritas tidak berhenti pada batas identitas, kebangsaan ataupun posisi sosial seseorang.
Tokoh lainnya adalah Herawati, perempuan yang memiliki pengalaman pendidikan di Amerika Serikat dan dibesarkan oleh seorang ibu yang progresif. Ia aktif dalam dunia jurnalistik dan membangun jaringan internasional hingga berkesempatan bertemu dengan Mahatma Gandhi. Kedua perempuan tersebut memiliki arah perjuangan yang berbeda. Stenie lebih banyak bergerak dalam upaya membangun solidaritas antara masyarakat Eropa dan Indonesia, sedangkan Herawati bergerak melalui dunia jurnalistik dan jejaring internasional.
Kisah keduanya menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya hadir sebagai saksi dari sebuah revolusi. Mereka juga dapat menjadi aktor yang ikut membentuk perubahan sosial, politik dan intelektual. Namun, minimnya kehadiran perempuan dalam narasi sejarah juga tidak dapat dilepaskan dari terbatasnya ruang yang tersedia bagi perempuan pada masa tersebut.
Kesempatan untuk terlibat dan kemudian meninggalkan jejak dalam sejarah tidak selalu terbuka secara setara. Dalam banyak kasus, privilege dan akses menjadi faktor yang menentukan apakah pengalaman seseorang akan terdokumentasikan atau justru terlupakan. Karena itu, membaca Revolusi juga dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengulik pengalaman perempuan dalam perjuangan kemerdekaan dan melihat bagaimana kontribusi mereka ikut membentuk Indonesia yang kita kenal hari ini.
Di Balik Narasi Kepahlawanan: Kekerasan, Kehilangan dan Trauma
Revolusi juga membawa sisi lain yang tidak selalu nyaman untuk dibicarakan, kekerasan dan kehilangan. Bagaimana kita dapat mengakui bahwa dalam proses revolusi terdapat kekejian dan pertumpahan darah tanpa kemudian meromantisme kekerasan tersebut?
Pertanyaan ini menjadi penting karena pengalaman revolusi tidak berhenti ketika sebuah perang berakhir. Ingatan mengenai kekerasan dapat diwariskan melalui cerita keluarga, pola pengasuhan dan cara generasi berikutnya memahami masa lalu. Bagi mereka yang berada di luar medan perang, terutama perempuan dan anak-anak, revolusi mungkin memiliki bentuk yang berbeda. Revolusi dapat berarti rumah yang ditinggalkan, anak-anak yang tumbuh tanpa mengenal ayahnya, atau pasangan yang tidak pernah tahu apakah orang yang mereka cintai akan kembali. Sehingga makna revolusi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak selalu berupa strategi perang ataupun gagasan politik. Ia juga dapat berupa rasa kehilangan, kekosongan dan pengalaman hidup yang membekas dalam keluarga.
Sejarah revolusi memang tidak dapat dilepaskan dari kekerasan yang menjadi bagian dari pengalaman kolonial dan perjuangan dekolonisasi. Namun, mengakui adanya kekerasan bukan berarti meromantisasi atau membenarkannya. Justru, salah satu tantangan dalam merawat ingatan sejarah adalah bagaimana trauma tersebut dapat diubah menjadi pembelajaran. Merawat ingatan bukan berarti terus hidup dalam trauma, melainkan memahami apa yang terjadi dan mengambil pelajaran agar kekerasan serupa tidak kembali terjadi.
Revolusi Adalah Milik Semua Orang
Pada akhirnya, Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern mengajak kita untuk melihat sejarah Indonesia dengan perspektif yang lebih luas. Revolusi bukan hanya tentang tokoh besar, perang, proklamasi atau pergantian kekuasaan. Di dalamnya terdapat pengalaman manusia yang jauh lebih beragam, anak muda yang berjuang, perempuan yang membangun jaringan, keluarga yang menunggu kepulangan serta masyarakat yang harus hidup dengan konsekuensi dari sebuah perubahan besar.
Membaca sejarah dengan cara demikian membuat revolusi terasa lebih dekat. Kita tidak lagi melihatnya sebagai rangkaian peristiwa yang selesai pada masa lalu, tetapi sebagai pengalaman manusia yang jejaknya masih dapat ditemukan dalam kehidupan hari ini. Sebab, revolusi bukan hanya milik tokoh besar, tetapi milik semua orang yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh. Dan mungkin, dengan membaca kembali kisah-kisah tersebut, kita tidak hanya sedang menemukan kembali sejarah Indonesia, namun juga menemukan kembali orang-orang yang selama ini berada di baliknya.
Terima kasih kepada Buibu dan Manteman yang sudah berpartisipasi dan narasumber yang sudah berbagi dalam kegiatan kali ini. Semoga diskusi kali ini dapat menjadi salah satu cara kita untuk merawat ingatan tentang perjuangan orang-orang terdahulu dan meneruskan semangat untuk memerdekakan diri dari penjajah.



