Ditulis oleh Content Team, Afra Afifah
Apa yang sebenarnya sedang kita siapkan untuk anak-anak yang akan hidup di Indonesia pada masa depan?
Pertanyaan ini menjadi pemantik utama dalam Book Talk & Discussion: Energy Justice and the Future of Indonesia; Upcoming Chapters We’re Writing for Our Children yang diselenggarakan BBB Book Club pada Senin, 27 Juli 2026, di Plaza Indonesia, Jakarta.
Diskusi menghadirkan Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI periode 2011–2014, host Endgame Podcast sekaligus penulis buku What It Takes: Southeast Asia, dan Rizki Nauli Siregar, Assistant Professor in Economics di Universitas Indonesia dan bagian dari Aliansi Ekonom Indonesia. Diskusi dipandu oleh Puty Puar, Founder sekaligus Executive Director BBB Book Club.
Mengambil titik berangkat dari isu energy justice, diskusi berkembang menjadi percakapan yang jauh lebih luas: tentang kualitas pendidikan, kesejahteraan guru, bonus demografi, talenta, inovasi, kebijakan publik, hingga bagaimana masyarakat dapat ikut menentukan arah masa depan Indonesia.
Pendidikan Dimulai dari Manusia yang Membentuk Manusia
Pak Gita membuka pembahasannya dengan sebuah ilustrasi tentang metabolisme. Ia membandingkan jumlah detak jantung tikus, manusia, dan paus sepanjang hidup. Menurutnya, yang membedakan bukan sekadar jumlahnya, melainkan ukuran dan durasi hidup yang berkaitan dengan bagaimana makhluk hidup memetabolisme apa yang mereka konsumsi. Analogi itu kemudian ia hubungkan dengan pendidikan: bagaimana manusia memproses pengetahuan dan wisdom dari lingkungan di sekitarnya.
Pak Gita juga menekankan pentingnya reformasi terhadap kualitas sekaligus kompensasi guru. Ia memberikan gambaran sederhana: jika seorang calon guru memperoleh kompensasi yang cukup untuk hidup layak di kampung halamannya, pilihan menjadi guru dapat menjadi jauh lebih menarik dibandingkan harus mengejar pekerjaan di kota besar atau perusahaan teknologi dengan gaji besar. Tanpa perubahan dalam cara Indonesia menghargai profesi guru, ia pesimis Indonesia dapat mencapai masa depan yang lebih baik.
Bonus Demografi Tidak Akan Menunggu
Rizki Nauli Siregar kemudian membawa pembicaraan pada isu bonus demografi. Menurutnya, Indonesia perlu menyadari bahwa waktu untuk memanfaatkan bonus demografi tidak tidak terbatas.
Bonus demografi sudah hampir selesai, Bapak Ibu. Indonesia mungkin masih memiliki waktu paling lama hingga 2045 sebelum menghadapi tantangan berikutnya berupa aging population
Rizki nauli siregar
Bonus demografi, menurut Mbak Kiki, baru akan menjadi keuntungan apabila dua hal terpenuhi: Indonesia mampu menciptakan sumber daya manusia yang terampil melalui investasi pendidikan, dan pada saat yang sama mampu menyediakan pekerjaan yang layak agar talenta tersebut dapat produktif. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya do we invest?, tetapi juga do we have the ecosystem for them to flourish?
Mbak Kiki menempatkan pendidikan sebagai salah satu public goods yang seharusnya menjadi prioritas negara. Pemerintah memiliki mandat untuk menyediakan barang dan layanan publik melalui anggaran yang berasal dari penerimaan negara. Karena itu, menurutnya, masyarakat wajar mempertanyakan apa saja yang ditempatkan sebagai prioritas dalam anggaran.
Ia juga mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai bonus demografi tidak dapat dipisahkan dari keterbatasan fiskal. Ketika sumber daya pemerintah terbatas, pilihan kebijakan menjadi semakin penting. Pertanyaannya bukan sekadar apakah sebuah program memiliki tujuan yang baik, tetapi apakah cara implementasinya merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut.
Dari Energi ke Lapangan Kerja
Jika pendidikan merupakan fondasi manusia, energi adalah salah satu fondasi bagi ekosistem tempat manusia tersebut berkembang.
Dalam buku What It Takes yang ditulisnya, Pak Gita menyoroti kesenjangan kapasitas energi Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir, kapasitas pembangunan energi yang disebutkannya berada di kisaran 5.000 megawatt per tahun. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan masa depan, ia mendorong peningkatan kapasitas pembangunan menjadi 30.000 megawatt per tahun. Dengan kebutuhan tambahan sekitar 600.000 megawatt, mempertahankan kapasitas 5.000 megawatt per tahun akan membuat Indonesia membutuhkan sekitar 120 tahun untuk mencapainya.
Pembangunan energi, dalam pandangannya, juga bukan semata persoalan listrik. Peningkatan kapasitas energi berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Ia memperkirakan bahwa peningkatan pembangunan dari 5.000 menjadi 30.000 megawatt per tahun dapat berkorelasi dengan penciptaan sekitar 12 juta lapangan kerja per tahun.
Namun, energi yang dibutuhkan untuk masa depan juga harus mempertimbangkan persoalan keberlanjutan. Jadi, bukan berarti kita hanya membutuhkan lebih banyak sumber energi, tapi juga sumber energi yang lebih bersih. Dengan demikian, energy justice tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa banyak listrik yang tersedia melainkan juga tentang siapa yang memperoleh akses, siapa yang menikmati manfaat pembangunan, serta bagaimana biaya sosial dan lingkungan dari pembangunan tersebut didistribusikan.
Menulis Bab Berikutnya, Bersama-sama
Pada akhirnya, diskusi ini tidak menawarkan satu resep sederhana untuk masa depan Indonesia. Justru sebaliknya, hal ini merupakan persoalan yang saling terhubung.
Energi membutuhkan investasi. Investasi membutuhkan ruang fiskal. Pertumbuhan membutuhkan talenta. Talenta membutuhkan pendidikan. Pendidikan membutuhkan guru berkualitas. Dan seluruhnya membutuhkan ekosistem kebijakan yang memungkinkan manusia untuk berkembang.
Namun, perubahan tidak selalu harus dimulai dari tingkat kebijakan nasional.
Dalam sesi penutup, Mbak Kiki mengajak masyarakat untuk berani mempertanyakan hal yang selama ini dianggap normal, dan melakukannya bersama-sama. Sebab, perubahan yang dilakukan sendirian memang melelahkan, sementara kolaborasi memungkinkan masyarakat untuk saling menguatkan dan terus bereksperimen dengan gagasan baru.
Maka, Upcoming Chapters We’re Writing for Our Children bukan hanya tentang bab yang akan ditulis oleh pemerintah atau para pengambil kebijakan. Ia juga tentang bab yang sedang ditulis oleh orang tua, guru, ekonom, komunitas, pembaca, dan setiap orang yang bersedia bertanya tentang masa depan yang sedang kita bangun.
Sebab pada akhirnya, anak-anak kita tidak hanya akan mewarisi hasil dari kebijakan yang kita buat hari ini. Mereka juga akan mewarisi kualitas manusia, institusi, pendidikan, energi, dan budaya yang kita pilih untuk bangun bersama.
Senang sekali bisa bertukar pikiran dengan narasumber dan Buibu dan Manteman yang hadir. Semoga kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran kita tentang peran energi bersih dalam pembangunan berkelanjutan dan bagaimana kita, sebagai warga negara, dapat menyuarakan kebutuhan kita akan kebijakan publik terkait energi kepada pemerintah dan komunitas di sekitar kita.




