Teori Sampai Praktik: Pengalaman Seru Mengikuti K-Book Content Camp

Ditulis oleh Partnership Team, Saskia Apriliani

Di tengah ramainya media sosial dan cepatnya pergantian tren digital, konten tentang buku ternyata masih punya tempat tersendiri bagi banyak orang. Belakangan ini, literatur Korea atau K-Lit juga semakin sering muncul di linimasa media sosial para pembaca muda. Melihat antusiasme pembaca terhadap K-Lit dan konten buku di media sosial, Penerbit Haru mengadakan acara bertajuk “Dari Cerita ke Sosial Media: Storytelling Literatur Korea di Era Algoritma” di Taksu Book Cafe, Cilandak.

Minat yang Tidak Surut

Acara ini menghadirkan book content creator Michan (@carimichan) sebagai pembicara utama. Dalam sesi yang berlangsung santai dan interaktif, peserta diajak membahas bagaimana sebuah buku bisa diolah menjadi konten yang menarik dan tetap relevan di tengah algoritma media sosial saat ini.

Salah satu pembahasan yang cukup menarik adalah alasan mengapa K-Lit begitu diminati pembaca. Menurut Michan, banyak buku Korea memiliki cerita dan tema yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari kesepian, hubungan keluarga, tekanan hidup, hingga rasa kehilangan dan pencarian diri. Hal-hal seperti inilah yang membuat banyak pembaca merasa relate dengan K-Lit, lalu membagikannya kembali lewat konten di media sosial.

Tips Praktis dari Kreator Konten

Tidak hanya membahas tren, Michan juga membagikan cara sederhana untuk menemukan ide konten setelah selesai membaca buku. Ia menyarankan pembaca untuk mulai bertanya pada diri sendiri empat hal penting:

  1. Apa konflik emosional dari buku tersebut?
  2. Siapa yang kemungkinan besar akan relate dengan cerita itu?
  3. Perasaan apa yang muncul setelah membaca?
  4. Pelajaran apa yang bisa diambil?

Menurut Michan, empat pertanyaan ini bisa membantu menentukan tema maupun hook sebuah konten. Sebab, konten buku yang menarik tidak selalu harus berisi rangkuman cerita. Justru, rasa penasaran dan opini personal sering kali menjadi alasan audiens tertarik untuk ikut membaca buku tersebut.

Selain itu, peserta juga diajak mengenal beberapa format konten yang dinilai potensial untuk book content creator. Mulai dari rekomendasi buku berdasarkan masalah tertentu, sudut pandang dan pengalaman pribadi, review singkat, hingga format listicle yang kini cukup sering muncul di media sosial.

Michan juga menekankan bahwa satu buku sebenarnya bisa dieksplorasi dari banyak sudut pandang. Artinya, satu buku tidak harus berhenti di satu video saja, tetapi bisa berkembang menjadi beberapa jenis konten yang berbeda.

Kunci: Profesional, Membuka Diri, dan Menikmati Proses

Dalam sesi diskusi, muncul pembahasan tentang bagaimana menghadapi buku yang ternyata tidak terlalu disukai saat harus membuat review. Menanggapi hal tersebut, Michan menjelaskan bahwa sebagai content creator, profesionalisme tetap penting. Namun di sisi lain, pembaca juga perlu membuka diri terhadap berbagai genre dan mencoba memahami alasan mengapa genre tersebut bisa disukai banyak orang.

Menurutnya, jangan terlalu cepat menutup diri hanya karena merasa tidak cocok dengan satu jenis bacaan. Yang terpenting adalah terus mencoba, mau bereksplorasi, dan tetap konsisten membuat konten.

Salah satu hal yang cukup membekas dari sesi ini adalah pesan Michan soal proses membuat konten. Menurutnya, peserta tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk membuat konten yang sempurna. Yang terpenting adalah membuat konten sesuai kapasitas masing-masing, tetapi tetap konsisten dan bisa menikmati prosesnya. Sebab pada akhirnya, membuat konten juga perlu terasa menyenangkan agar tetap bisa dijalani dalam jangka panjang.

Praktik Bersama

Tidak berhenti di teori, acara ini juga menghadirkan sesi praktik membuat konten secara langsung. Peserta diberi kesempatan untuk mencoba mengembangkan ide konten mereka sendiri berdasarkan buku yang telah dibaca. Sesi ini membuat diskusi terasa lebih hidup karena peserta tidak hanya mendengar materi, tetapi juga langsung mencoba membuat kontennya sendiri.

Lewat acara ini, peserta tidak hanya diajak melihat dunia book content creator dari dekat, tetapi juga memahami bagaimana media sosial kini bisa menjadi ruang baru bagi buku dan cerita untuk bertemu dengan lebih banyak pembaca.


Terima kasih kepada Penerbit Haru untuk inisiasi acara serunya, juga kolaborator yang sudah memberikan materi yang ‘daging’ banget! Semoga Buibu dan Manteman yang berpartisipasi semakin bersemangat dalam membuat konten, yaa!

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.