Memaknai Kembali Arti Pernikahan Lewat Buku “Untuk Apa Keluarga?”

Ditulis oleh Content Team, Danis Ahnaf

Pada Sabtu, 6 Juni 2026, Buibu Baca Buku Club berkolaborasi dengan Ibu Rani Anggraeni Dewi untuk mendiskusikan buku terbarunya yang berjudul Untuk Apa Keluarga? (2026). Buku ini merupakan bagian ketiga dari trilogi yang diawali dengan buku Untuk Apa Menikah? (2021) dan dilanjutkan oleh Untuk Apa Bertahan? (2023).

Meskipun berjudul Untuk Apa Keluarga? Buku ini tidak hanya membahas keluarga sebagai sebuah unit sosial, tetapi juga mengajak pembaca memahami berbagai aspek yang membentuk dan mempengaruhi kehidupan keluarga, mulai dari hubungan suami-istri, pola komunikasi, hingga proses pertumbuhan individu di dalamnya.

Mengenal Rani Anggraeni Dewi

Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A adalah seorang konsultan terapis hubungan pasangan yang telah berpengalaman lebih dari 25 tahun. Beliau telah menjalani pernikahan selama 44 tahun, memiliki dua orang anak dan tiga orang cucu. Latar belakang pendidikannya mencakup berbagai bidang, mulai dari Seni dan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta (1977-1981), Pendidikan Psikologi dan Bimbingan Konseling di Universitas Negeri Jakarta (2000-2002), Master of Philosophy and Civilization di Universitas Paramadina (2000-2003), hingga Psikologi Terapan di Institut Psikologi Terapan Universitas Indonesia (1994-1996). 

Selain itu, Bu Rani Anggraeni juga memiliki berbagai sertifikasi profesional, diantaranya Couple Relationship Therapy & Clinical Training di Perth, Australia, serta ZEN Counseling di India. 

ulasan buku Untuk Apa Keluarga oleh BBBBabes Ajeng

Keluarga Sebagai Institusi yang Perlu Dirawat

Dalam bincang-bincang buku ini, Ibu Rani menjelaskan bahwa keluarga merupakan sebuah institusi yang harus dirawat agar dapat bertahan secara berkelanjutan. Tentunya yang perlu dirawat adalah hubungan antara individu-individu yang membangunnya. Menurutnya, ketika sebuah pernikahan mengalami kegagalan, yang gagal bukanlah institusinya melainkan orang-orang yang tidak berhasil mempertahankan. dan merawat hubungan tersebut. 

Salah satu cara untuk merawat pernikahan ini adalah dengan membangun conscious marriage atau pernikahan yang dijalani secara sadar. Bu Rani menjelaskan bahwa setiap individu membawa hidden agenda ke dalam pernikahannya. Hidden agenda ini biasanya berasal dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi sejak kecil. Tanpa disadari, seseorang akan berharap pasangannya dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Membangun conscious marriage berarti menyadari bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan harapan yang dibawa ke dalam hubungannya. 

Ketika sebuah pernikahan mengalami kegagalan, yang gagal bukanlah institusinya melainkan orang-orang yang tidak berhasil mempertahankan. dan merawat hubungan tersebut. 

Rani ANGGRAENI dEWI

Pernikahan Sebagai Continuous Learning Journey

Menurut Bu Rani, pernikahan merupakan perjalanan panjang yang berkelanjutan. Dalam fase tersebut terdapat fase honeymoon dan bluemoon yang terjadi secara bergulir sepanjang pernikahan berlangsung. Adapun fase lain diantaranya adalah: 

  1. Fase tanam
  2. Fase tumbuh
  3. Fase tuai
  4. Fase tanam, tumbuh, tuai

Keempat fase ini menggambarkan proses perkembangan hubungan. Cinta yang dimiliki pasangan ketika menikah dapat diibaratkan sebagai bibit unggul yang menjadi modal hubungan pernikahan yang sehat. 


Sesi tanya jawab menjadi salah satu sesi yang ditunggu oleh para peserta. Ada beberapa pertanyaan menarik yang diajukan dengan jawaban yang hangat dari Ibu Rani. Simak beberapa pertanyaan pilihan kami di bawah ini:

Pertanyaan:
Sampai Kapan Seseorang Harus Bertahan Dalam Hubungan yang Tidak Seimbang?

Menurut Bu Rani, seseorang boleh berharap pasangannya berubah, tetapi harapan tersebut harus disertai bukti adanya usaha untuk berubah dari pihak tersebut. Tidak realistis untuk terus berharap pada perubahan jika tidak ada upaya nyata yang dilakukan. Bu Rani juga menjelaskan indikator sejauh mana seseorang mampu bertahan dalam rumah tangga yang hanya diusahakan oleh satu pihak. 

Apabila hubungan tersebut sudah menimbulkan emotional turmoil yang membahayakan kesehatan fisik maupun mental, maka hubungan tersebut perlu dipertimbangkan kembali. Upaya memperbaiki pernikahan harus dilakukan bersama  karena hubungan tidak dapat dipelihara hanya oleh satu orang.

“Pernikahan tidak cukup hanya langgeng. Pernikahan juga harus sehat dan membahagiakan”

Rani Anggraeni Dewi

Pertanyaan:
Apakah Kita Harus Selalu Sependapat Dengan Pasangan?

Perbedaan values merupakan hal yang hampir pasti muncul dalam setiap hubungan. Menurut Bu Rani, perbedaan pendapat pasti terjadi dan hal tersebut seharusnya tidak membuat pasangan berselisih paham, justru perbedaan ini menjadi jalan pasangan untuk saling menerima.

Tapi, kenyataannya, perbedaan values menjadi satu dari dua penyebab utama kegagalan hubungan. Pertama adalah komunikasi yang buruk dan kedua adalah perbedaan nilai yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Sehingga pasangan perlu membangun ruang komunikasi yang suportif untuk mendiskusikan perbedaan tersebut. Meskipun percakapan seperti ini sering kali terasa tidak nyaman, menghindarinya justru dapat memperbesar konflik di kemudian hari.

Pertanyaan:
Pentingnya Membuka Ruang Emosional Pada Anak Laki-laki

Dalam diskusi, Bu Rani juga menyoroti pentingnya membiasakan anak laki-laki untuk membicarakan perasaannya sendiri and being vulnerable. Kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi akan membantu laki-laki membangun hubungan yang lebih sehat dengan pasangan maupun anak-anak mereka di masa depan. Menurutnya, keseimbangan emosional dalam keluarga akan lebih mudah tercapai ketika setiap anggota keluarga mampu mengkomunikasikan perasaannya secara terbuka.


Melalui Buku Untuk Apa Keluarga? Ibu Rani mengajak pembaca melihat keluarga sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hubungan antara suami dan istri. Keluarga adalah ruang individu tumbuh dan belajar yang membutuhkan kesadaran dan komitmen.

Terima kasih kepada Ibu Rani untuk insights-nya yang hangat dan reflektif. Terima kasih juga kepada Buibu dan Manteman yang sudah mengikuti kegiatan diskusi dengan antusias. Sampai jumpa di kegiatan lainnya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.