Ketika Sastra Anak Berbicara kepada Semua Usia

Ditulis oleh Content Team, Safira Pratiwi

Mengapa kisah-kisah yang ditujukan untuk anak dapat menghadirkan pertanyaan besar tentang hidup dan harapan?

Pertanyaan ini menjadi pintu masuk dalam kegiatan Leseclub bertajuk “Sastra Anak: Petualangan dan renungan untuk Semua”, yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut Bandung bersama Buibu Baca Buku Book Club pada hari Sabtu, 13 Juni 2026.

Sejak 2021, Goethe-Institut Bandung secara rutin mengadakan Leseclub bersama Buibu Baca Buku untuk memperkenalkan karya sastra Jerman kepada pembaca Indonesia. Pada pertemuan kali ini, peserta diajak berdiskusi melalui karya Michael Ende, salah satu penulis Jerman yang paling berpengaruh dalam penyampaian sastra anak yang juga dapat berbicara kepada pembaca dari segala usia.

Diskusi ini menghadirkan Kamelia Gantrisia, S.S., M.Hum., dosen Sastra Jerman Universitas Padjadjaran, serta Wahyu Novianto (@awaywithbooks), seorang pembaca dan ayah yang akrab dengan dunia buku anak melalui pengalaman membacakan buku cerita untuk anaknya.

Ketika Sastra Anak Dibaca Oleh Orang Dewasa

Michael Ende dikenal sebagai penulis sastra anak, seperti Momo dan The Neverending Story, meski begitu karyanya banyak menyimpan lapisan makna yang melampaui usia pembacanya.

Bu Kamelia menjelaskan bahwa Michael Ende merupakan seorang cross-writer, yaitu penulis yang bisa membuat karya yang ditujukan kepada lebih dari satu kelompok pembaca secara bersamaan. Cerita yang dapat dinikmati oleh anak karena alur cerita yang menarik, sementara cerita itu menawarkan lapisan makna yang hanya bisa dipahami oleh orang dewasa.

Dalam karyanya, Michael Ende juga menciptakan kembali makna mitos atau simbol yang sering kali relevan dalam kehidupan manusia modern. Melalui kalimat yang relatif sederhana dengan contoh manusiawi, menjadi lebih mudah untuk diserap dalam cerita dan lebih mudah diterima oleh pembaca.

Sastra anak memanusiakan hal-hal yang rumit,
jadi bisa dipahami anak secara otomatis

Kamelia Gantrisia

Wahyu Novianto, atau yang biasa dipanggil Away, juga mengungkapkan setelah lebih banyak membaca buku anak, ada hal-hal sederhana dan penting yang menjadi harapan orang dewasa untuk dunia yang lebih baik. Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian dan kemandirian seringkali disampaikan dengan cerita sederhana. Hal inilah yang mengingatkan orang dewasa dalam kehidupan dewasa yang rumit.

Adanya sastra anak mengingatkan (tentang)
hal-hal yang memang penting dalam hidup

Wahyu Novianto

Memahami Dunia Melalui Imajinasi Buku

Karya Michael Ende mampu menjaga ruang imajinasi untuk pembaca anak. Cerita-ceritanya mengajak pembaca untuk membayangkan dan menemukan makna sendiri.

Bu Kamelia menjelaskan bahwa anak di Jerman tidak hanya diberikan tentang nilai moral tapi juga dipandang sebagai individu yang mampu berpikir, mempertanyakan dan bernegosiasi dengan apa yang dia hadapi. Karena itu nilai sosial yang kompleks di hadirkan dalam sastra anak melalui cerita yang sesuai dengan pengalaman dan pemahaman mereka.

“Biarkan anak berimajinasi dulu. Michael Ende juga tidak menghindari bahwa anak punya imajinasi. Ceritanya bisa sampai dulu ke anak dan refleksinya bisa sampai ke orang dewasa, nantinya bisa disampaikan secara bertahap kepada anak,” jelas Bu Kamelia.

Peran Orangtua dalam Proses Membaca

Salah satu pertanyaan dalam diskusi adalah bagaimana orangtua menyikapi buku yang memiliki nilai atau latar yang berbeda dengan nilai keluarga.

Menurut Away, tugas orangtua bukan hanya memilihkan buku bacaan tapi juga mendampingi proses membaca. Ketika muncul perbedaan nilai atau pertanyaan, kesempatan ini dapat menjadi ruang diskusi bersama anak.

“Pertanyaan utama adalah seberapa siap dengan pertanyaan anak dan diskusi bersama dengan anak? Seberapa jauh kita mau berdiskusi sama anak?” jelas Away.

Away juga menjelaskan bahwa langkah pertama sebelum berdiskusi dengan anak adalah dengan membuat anak mencintai membaca dulu. Pilihan cerita yang seru dan menarik bisa menjadi pintu masuk sebelum nilai-nilai lain masuk.

“Kalau ceritanya tidak seru untuk anak, mungkin akan susah untuk pengembangan nilai lain,” ujarnya.

Sastra Anak untuk Semua Usia

Diskusi pagi ini menunjukan bahwa sastra anak tidak hanya untuk anak-anak. Penulis seperti Michael Ende, membuat cerita menjadi tempat petualangan dan perenungan, menjadi imajinasi dan realitas antara dunia anak dan dunia orang dewasa.

Buku seperti Momo dan The Neverending Story menjadi contoh karya sastra lintas generasi. Cerita yang memikat dan dapat dinikmati anak-anak, sementara orang dewasa menemukan kesempatan untuk mengingat kembali hal-hal yang terlupakan dalam kesibukan hidup orang dewasa.

Melalui sastra anak, kita dapat membantu anak memahami lingkungan sekitar dan dunia dan menjadi pengingat untuk orang dewasa tentang hal yang dibutuhkan dalam hidup.

Baca juga ulasan reflektif dari BBBBabes Meita untuk buku “Melangkah ke Sastra Anak”, kumpulan esai yang ditulis oleh Dwianto Setyawan, seorang novelis dan penulis cerita anak tahun 1980-an.


Terima kasih kepada Goethe-Institut Bandung, Bu Kamelia, Kak Away, serta Buibu dan Manteman yang telah hadir dan meramaikan diskusi ini. Semoga diskusi ini menjadi awal dari banyak kegiatan membaca bersama anak. Sampai bertemu lagi di kegiatan Buibu Baca Buku berikutnya!

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.