Ditulis oleh content team: Restu Almalita
Pada hari Minggu, 14 Juni 2026, BBB Book Club bersama Aliansi Ekonom Indonesia mengadakan Webinar bertajuk “Menteri Keuangan Keluarga: Stabilitas Dapur di Tengah Krisis Energi Global dan Kebijakan Fiskal Nasional”. Dimoderatori oleh Puty Puar (Founder BBB Book Club) dengan narasumber dari Aliansi Ekonom Indonesia, yaitu Talitha Chairunnisa dan Rafika Farah.
Kegiatan ini merespons isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi secara mendadak dan hangat diperbincangkan di lini masa dan memicu keresahan masyarakat. Tidak hanya itu, di tengah situasi geopolitik global yang memicu krisis energi dunia, masyarakat Indonesia juga dihadapkan pada beberapa tantangan domestik, antara lain:
- Kebijakan yang Dinilai Bias
Fokus alokasi anggaran negara yang dinilai terpusat pada dua program populis, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). - Pelemahan Kepercayaan terhadap Institusi
Menurunnya tingkat kepercayaan pasar terhadap lembaga strategis, seperti Bank Indonesia (BI) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). - Kesenjangan Ekonomi yang Membesar
Meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kenaikan, pertumbuhan daya beli masyarakat justru tergerus oleh laju inflasi. Dari total 80% tenaga kerja baru di Indonesia, mayoritas di antaranya terserap di sektor informal dengan tingkat upah yang relatif rendah.
Kondisi ini tentu menyisakan beberapa pertanyaan krusial, dua di antaranya ialah sikap dan strategi adaptasi masyarakat (khususnya para Ibu) di tengah impitan dua program populis tersebut, yang menyita porsi anggaran negara hingga berisiko mengabaikan pemenuhan hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan akses air bersih, serta upaya konkret yang dapat dilakukan sebagai warga negara ketika kebutuhan akan subsidi semakin tinggi, tetapi ruang fiskal negara justru semakin menyempit.
Langkah Strategis untuk Mode Survive Keuangan Keluarga
Berdasarkan diskusi, berikut ini adalah beberapa poin praktis yang dapat diterapkan sebagai langkah awal dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga:
- Menyusun Skala Prioritas secara Ketat
Ketika harga kebutuhan pokok terus meningkat sementara pertumbuhan pendapatan relatif stagnan, penyusunan skala prioritas menjadi kunci utama untuk bertahan. Perlu diingat kembali prinsip dasar pengelolaan keuangan: jika semua hal dianggap penting, mungkin itu jadi alarm tak ada satu pun yang benar-benar menjadi prioritas. - Tetap Kritis terhadap Arah Kebijakan Publik
Sikap kritis dapat dipelihara dengan membangun jejaring, aktif berdiskusi di dalam komunitas, serta mengikuti berbagai forum yang berfokus pada peningkatan literasi fiskal. - Mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Lokal
Di tengah tantangan akses kepemilikan hunian yang makin sulit, pengalihan daya beli secara bijak dapat dilakukan dengan memprioritaskan belanja pada UMKM, tetangga, atau kerabat sekitar sebagai bentuk dukungan ekonomi lokal yang nyata. - Menerapkan Gaya Hidup Efisien
Meningkatkan resiliensi keluarga melalui efisiensi energi dan pengurangan limbah rumah tangga. Penghematan konsumsi energi secara langsung berkontribusi pada efisiensi pengeluaran. - Menjaga Penilaian Rasional (Tidak FOMO)
Selalu pastikan untuk memverifikasi kredibilitas sumber informasi sebelum mengambil keputusan investasi, serta transaksi pembelian atau penjualan aset.
Memperkuat Peran dan Solidaritas Komunitas
Setelah melakukan pembenahan internal di tingkat rumah tangga, langkah sosial lanjutan yang dapat dilakukan mencakup:
- Memperkuat Kepedulian Antartetangga
Sebagai makhluk sosial, kita perlu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk saling mendukung dan menjaga keandalan jejaring pengaman sosial di lingkungan sekitar. - Konsisten Bersuara terhadap Ketidakadilan Sistemik
Menyadari bahwa keberlangsungan hidup masyarakat hari ini sangat dipengaruhi oleh setiap kebijakan publik yang diambil oleh penyelenggara negara.
7 Desakan Darurat Ekonomi (Aliansi Ekonom Indonesia)
Sebagai referensi literasi fiskal publik, Aliansi Ekonom Indonesia merumuskan “7 Desakan Darurat Ekonomi” berikut:
- Realiasi Anggaran: Memindahkan alokasi dana dari program-program populis ke sektor prioritas, seperti pendidikan dan layanan kesehatan berkualitas.
- Independensi Lembaga: Menjamin independensi BI, BPS, dan KPK dari potensi intervensi politik kekuasaan.
- Ruang Tumbuh Bagi UMKM: Membatasi dominasi BUMN dan aparat dalam aktivitas bisnis agar sektor usaha kecil memiliki ruang tumbuh yang sehat.
- Penyederhanaan Birokrasi: Mempermudah perizinan usaha dan menghentikan praktik biaya tidak resmi (pungli) yang membebankan perekonomian.
- Perlindungan Sosial yang Tepat Sasaran: Memastikan distribusi subsidi secara akurat serta memberantas aktivitas perjudian daring (judi online) yang merusak perekonomian keluarga.
- Kebijakan Berbasis Data (Data-Driven Policy): Menghentikan formulasi kebijakan yang semata-mata didasari janji politik, serta beralih pada kajian teknokratis yang objektif dan terukur.
- Pemulihan Tata Kelola Demokrasi: Menegakkan tata kelola pemerintahan yang bersih sebagai fondasi utama bagi stabilitas ekonomi nasional.

Melalui webinar ini, BBB Book Club bersama Aliansi Ekonom Indonesia berharap semakin banyak masyarakat, terutama para ibu untuk menyadari pentingnya literasi keuangan dan fiskal untuk hidup berkelanjutan yang lebih baik.
Terima kasih Buibu dan Manteman yang sudah berpartisipasi dengan antusias! Juga kepada kedua narasumber yang sudah membagikan ilmunya di hari Minggu pagi. Sampai bertemu lagi.



