Leseclub Oktober: Inkheart (Tintenherz)

Tema: ‘Tintenherz (Inkheart)’ karya Cornelia Funke

Perwakilan Goethe Institut: Fita Andrianti

Narasumber:

  • Vito Sami, Kepala Bidang Kineklub Liga Film Mahasiswa ITB
  • Dian Azhari, M.Hum, Pengajar Program Studi Sastra Jerman, STBA YAPARI-ABA Bandung

Pengulas: Meita Eryanti

Moderator: Puty Puar

Goethe Institut Bandung berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku dalam kegiatan ‘Klub Membaca’ Leseclub yang bertujuan untuk memperkenalkan sastra Jerman modern, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya (karya bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman).

Setelah pada edisi perdana membahas buku klasik Jerman berjudul ‘Momo’ karya Michael Ende, kali ini Leseclub membahas ‘Tintenherz’ atau ‘Inkheart’ karya Cornelia Funke yang terbit pada tahun 2003. Cornelia Funke sendiri kerap dijuluki sebagai J.K. Rowling-nya Jerman karena karyanya yang sangat kaya akan imajinasi. Karya ini juga diangkat ke layar lebar pada tahun 2009 dengan judul ‘Inkheart’.

Acara berlangsung secara virtual pada hari Sabtu, 9 Oktober 2021 pukul 09.30 WIB, dibuka dengan sambutan oleh Fita Andrianti selaku perwakilan dari Goethe Institut Bandung dan Okky Dwi Hapitta, M.Hum. selaku kepada prodi Sastra Jerman STBA YAPARI-ABA Bandung.

Setelah resmi dibuka, acara dimulai dengan pembacaan buku Inkheart halaman 145 – 152 secara bergiliran. Kemudian Meita Eryanti, perwakilan Buibu Baca Buku memaparkan ulasan buku tulisan Cornelia Funke ini. Meita menjelaskan tentang buku ini dari hal yang umum seperti itdentitas buku, hingga hal yang spesifik misalnya keunikan buku ini yang memasukkan kutipan dari berbagai sastra klasik di awal setiap bab. Meita juga menjelaskan soal bagaimana dia melihat ada sebuah gugatan dalam buku ini tentang narasi kepahlawanan yang selama ini didominasi oleh laki-laki dewasa.

Setelah pemaparan, diadakan tanya jawab bersama narasumber terkait sisi sastra dan alih wahana karya ini ke dalam medium film bersama Vito Sami dari Kineklub LFM ITB dan Dian Azhari dari STBA YAPARI-ABA Bandung.

Menurut Pak Dian, ‘Inkheart’ sebenarnya merupakan karya yang terasa ‘Jerman’-nya karena walaupun masuk ke dalam genre fiksi-fantasi yang sepertinya diperuntukkan bagi anak-anak, ada hal yang lebih mendalam yaitu soal bagaimana Cornelia Funke ingin menceritakan bahwa kehidupan dalam dongeng yang sering diromantisasi sebenarnya memiliki sisi yang gelap dan berat.

Hal ini yang kemudian dikomentari oleh Vito sebagai hal yang gagal disampaikan melalui medium film ala Hollywood. Menurut Vito, film ‘Inkheart’ tidak memberikan kesan yang mendalam dan terkesan sekadar menyuguhkan film fantasi dan petualangan gaya Hollywood.

Baik Pak Dian maupun Vito sependapat bahwa film-film Jerman memang memiliki kesan lebih gelap, serius dan membutuhkan pemikiran yang mendalam. Namun demikian, dengan mudahnya akses dan distribusi film dan series saat ini, banyak juga film Jerman yang sudah terpengaruh oleh gaya Hollywood yang lebih komersil. Namun demikian, jika kita bawa ke konteks alih wahana, boleh jadi buku Jerman pada umumnya memang tidak mudah untuk disampaikan ke dalam medium film. Pak Dian pun merangkumnya dalam analogi, “Ibarat bahan makanan sehat, tidak bisa dipaksakan untuk menjadi dessert karena dessert itu kan memang pada dasarnya bukan untuk sehat tapi untuk kesenangan. Sastra dan film Jerman kebanyakan juga seperti itu.”

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 40 orang yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Kegiatan Leseclub akan kembali di gelar di bulan November mendatang. Nantikan pengumumannya di kanal media sosial Goethe Institut Bandung dan Buibu Baca Buku Book Club ya! 🙂

Link terkait: https://www.goethe.de/ins/id/id/sta/ban/ver.cfm?fuseaction=events.detail&event_id=22361425


Tentang Buku

Judul asal: Tintenherz
Penulis: Cornelia Funke
Genre: Young Adult Fiction
Judul terjemahan: Inkheart
Penerjemah: Dinyah Latuconsina
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2009

Blurb: 

Ayah Meggie—namanya Mo—memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.

Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!


Published by Puty

Mom, illustrator, content creator, book author & enthusiast. Based in Jakarta Greater Area, Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: