Leseclub September: Momo

Tema: ‘Momo’ karya Michael Ende

Perwakilan Goethe Institut: Fita Andrianti

Narasumber:

  • Hendarto Setiadi, Penerjemah buku ‘Momo’
  • Dian Ekawati, Pimpinan Program Studi Sastra Jerman, FIB, UNPAD

Pengulas: Meita Eryanti

Moderator: Puty Puar

Goethe Institut Bandung berkolaborasi dengan Buibu Baca Buku dalam kegiatan ‘Klub Membaca’ Leseclub yang bertujuan untuk memperkenalkan sastra Jerman modern, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya (karya bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jerman).

Pada edisi perdana ini, kegiatan Klub Membaca membahas buku populer Jerman berjudul ‘Momo’ yang ditulis oleh Michael Ende di tahun 1973. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 60 peserta (dari 100 lebih pendaftar) yang datang dari berbagai latar belakang dan provinsi di Indonesia.

Acara dimulai dengan pembacaan buku ‘Momo’ secara bergiliran oleh peserta sebanyak 12 halaman yang diikuti dengan ulasan yang dipaparkan oleh Meita Eryanti.

Setelah pembahasan dengan pengulas, dilangsungkan sesi diskusi yang menghadirkan Bapak Hendarto Setiadi, penerjemah buku ‘Momo’ (Gramedia Pustaka Utama, 2004) dan Ibu Dian Ekawati, Pimpinan Program Studi Sastra Jerman, FIB, UNPAD.

Diskusi berjalan dengan hangat namun memberikan banyak wawasan dan inspirasi baru. Buku ‘Momo’ memang sangat menarik untuk dibahas karena walau bergenre roman anak namun banyak makna filosofis yang relevan dengan situasi saat ini.

Pak Hendarto menjelaskan bagaimana proses penerjemahan buku Momo tapi juga konteks budaya yang disesuaikan dengan pembaca Indonesia. Baik Pak Hendarto maupun Ibu Dian berpendapat bahwa buku-buku Jerman pada umumnya lebih serius dan memiliki makna yang mendalam. Hal ini merupakan salah satu faktor (namun bukan satu-satunya) kenapa buku sastra terjemahan Jerman tidak begitu populer di Indonesia jika dibandingkan dengan buku-buku Amerika yang biasanya memiliki pace yang lebih cepat.

Tidak hanya membahas buku, diskusi ini juga mengajak kita untuk lebih memahami sastra dan budaya Jerman, termasuk bagaimana pola asuh dan budaya membaca di Jerman juga ikut mendukung seorang anak untuk menjadi pemikir yang kritis dan berani mengungkapkan pendapat.

Kegiatan Leseclub akan kembali di gelar di bulan Oktober mendatang. Nantikan pengumumannya di kanal media sosial Goethe Institut Bandung dan Buibu Baca Buku Book Club 🙂

Link terkait: https://www.goethe.de/ins/id/id/ver.cfm?fuseaction=events.detail&event_id=22334153


Ulasan Buku

Oleh Meita Eryanti

Judul: Momo

Penulis: Michael Ende

Genre: Kinderroman (roman anak)

Penerjemah: Hendarto Setiadi

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka

Tahun terbit: 2004

Kisah MOMO berlangsung di negeri khayalan yang tidak terikat waktu dan tempat, di masa kini yang abadi. Namun ceritanya bukan mengenai pangeran, penyihir, dan peri. Kisah MOMO diangkat dari kehidupan kita sehari-hari. Dunianya adalah sebuah kota besar modern di selatan Eropa.

Gerombolan tuan kelabu yang menakutkan sedang beraksi. Mereka mendesak semua orang untuk semakin banyak menghemat waktu. Namun sebenarnya mereka mencuri waktu yang telah dihemat itu. Padahal waktu adalah kehidupan, dan kehidupan berpusat di dalam hati. Semakin giat orang-orang menghemat waktu, semakin hambar dan dingin kehidupan mereka, dan semakin asing pula mereka satu sama lain. Anak-anaklah yang paling merasakan pudarnya kasih sayang dan hilangnya kebersamaan. Namun protes mereka tidak dihiraukan. Ketika keadaan bertambah genting dan dunia seakan sudah berada dalam cengkeraman para tuan kelabu, Empu Hora, sang pengelola waktu yang misterius, memutuskan turun tangan. Tapi ia membutuhkan bantuan anak manusia.

Momo, gadis cilik dalam kisah ini, berjuang seorang diri melawan pasukan tuan kelabu. Hanya bersenjatakan sekuntum bunga dan ditemani seekor kura-kura ia berhasil tampil sebagai pemenang. Seluruh waktu yang selama ini disekap dikembalikan kepada pemilik masing-masing. Dunia yang nyaris celaka dapat diselamatkan.

ULASAN

Buku ini bercerita tentang suatu tempat yang dikuasai oleh gerombolan Tuan Kelabu. Kehadiran Tuan Kelabu membuat kota yang semula hangat dan menyenangkan menjadi dingin dan selalu terburu-buru. Gerombolan Tuan Kelabu membujuk orang-orang untuk menghemat waktu dan mereka akan mencurinya.

Ketika banyak orang dewasa yang terbujuk untuk menghemat waktu, semakin banyak anak-anak yang datang ke amfiteater tempat Momo tinggal karena merasa diabaikan oleh orang dewasa, terutama orangtuanya. Mereka dibelikan mainan bagus, diberi uang, namun tidak diberi waktu untuk bersama.

Sampai akhirnya anak-anak harus dititipkan di “Depot Anak-anak” supaya anak-anak terurus selagi orangtuanya sibuk bekerja. Di Depot Anak-anak, anak-anak dipersiapkan untuk menjadi penghemat waktu selanjutnya. Mereka tidak diperbolehkan bermain sendiri. Mereka hanya boleh melakukan permainan yang mengajarkan sesuatu yang bermanfaat.

Orang dewasa pun sebenarnya tidak bahagia dengan sistem penghematan waktu ini. Mereka jadi selalu terburu-buru dan tidak menikmati apa yang mereka kerjakan. Tuan Fusi, Si Tukang Cukur, yang tadinya ramah menjadi murung. Dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan tidak menanggapi obrolan pelanggannya.

Nicola, Si Tukang Tembok, dulu dia sangat bangga dengan hasil pekerjaannya. Tapi kini dia muak dengan pekerjaannya karena selain harus bekerja dengan cepat, dia juga harus menurunkan kualitas bangunan yang dibuatnya.

Nino, Si Tukang Kedai, sampai harus mengusir pamannya dari kedai supaya lebih banyak orang yang berkunjung ke kedainya. Bahkan pada akhirnya, kedainya yang suasana tadinya hangat dan menyenangkan berubah menjadi tempat makan prasmanan dimana orang makan sambil terburu-buru.

Gigi Pemanduwisata yang dulunya memiliki banyak cerita untuk disampaikan mencapai titik dimana dia kehilangan ide. Mulanya, ia mengirit ide. Sebuah ide dia kembangkan menjadi 5 cerita. Akhirnya dia menyuguhkan cerita yang sama pada pendengarnya dengan mengganti nama tokoh dan tempatnya. Jalan ceritanya hanya diubah sedikit-sedikit. 

Satu hal yang terlintas di pikiranku saat membaca buku Momo karya Michael Ende adalah ungkapan ‘time is money – waktu adalah uang’. Menarik banget ketika Tuan Kelabu bertemu dengan Tuan Fusi, tukang cukur, dan menjelaskan bagaimana dia melakukan pemborosan waktu selama ini. Tuan Kelabu kemudian menceritakan seberapa kayanya Tuan Fusi kalau bisa menabung waktu. Konsepnya persis banget dengan uang. Semakin banyak uang yang bisa kita simpan, kita akan jadi semakin kaya.

Cerita ini ditulis oleh Michael Ende, penulis Jerman pada tahun 1973 namun menurutku, relevan sekali dengan kondisi masyarakat di sekitarku hari ini. Orang dewasa bekerja sangat keras, bahkan ada yang bekerja lebih dari 12 jam sehari. Anak-anak lalu disekolahkan di fullday school dari pagi sampai sore.

Bahkan, ada kalimat dari Tuan Kelabu pada Momo yang sering sekali aku dengar dari banyak orang yang lebih tua. Katanya, “Satu-satunya yang penting dalam hidup ini adalah kemajuan, keberhasilan. Jika kau lebih maju, lebih berhasil daripada orang lain, maka semua hal lain akan datang dengan sendirinya: persahabatan, kasih sayang, kehormatan, dan sebagainya.”

Sejujurnya, aku selalu takjub dengan literatur anak dari Eropa. Dari beberapa literatur anak yang pernah aku baca, mereka selalu membawa tema yang menurutku cukup berat tapi memang disampaikan dengan bahasa yang menyenangkan. 

Cerita Momo ini fantasi dengan nama tokoh yang lucu dan mudah diingat. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga sederhana dan mengalir. Membaca buku ini seperti aku mendengarkan seseorang yang bercerita (kayaknya buku ini cocok banget kalau dialihwahanakan ke audio). Tetapi tema tentang penghematan waktu ini menurutku lebih cocok untuk dibaca oleh orang dewasa yang selalu terburu-buru.


Published by Puty

Mom, illustrator, content creator, book author & enthusiast. Based in Jakarta Greater Area, Indonesia.

One thought on “Leseclub September: Momo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: